Sabtu, 07 Maret 2009

Ibnu Thufail

IbnuThufail atau dalam tulisan latin lebih dikenal dengan nama Abubacer, adalah salah seorang Ilmuan sekaligus Filosof Islam yang pernah hidup pada tahun 506-581 H /1110-1185 M. Beliau memiliki nama asli Muhammad Ibnu Abdul Malik Ibnu Thufail.

Sejarah Singkat 

Ibnu Thufail dilahirkan di Wadi Asy sebuah tempat di kota Guadik yang wakti itu berada dibawah propinsi Granada, tepatnyta pada tahun 506 H atau 1110M . Beliau termasuk keturunan dari salah satu keluarga Arab termuka yakni suku Qaklis.

Dalam hal keilmuan, kegiatan ilmiahnya meliputi bidang ilmu Kedokteran, Kesusastraan, Matematika, dan Filsafat. Karir IbnuThufail dimulai dari Granada sebagai seorang Dokter praktik. Namun selain menekuni pekerjaannya sebagai seorang Dokter praktik, beliau juga seringkali menulis untuk penguasa pada waktu itu.

Hingga kemudian, (karena ketenaran beliau) IbnuThufail diangkat menjadi sekertaris gubernur kota Granada. Karir tersebut terus berlanjut sampai-sampai pada tahun 1154M (549H) IbnuThufail menjadi sekertaris pribadi dari Gubernur Ceuta dan Tangier “Penguasa Muwahhid Sepanyol pertrama yang merebut Maroko” .

Setelah namanya terus naik daun, beliau lalu menjadi Dokter pribadi Abu Ya’Cub Yusuf al-Mansur dan menjadi seorang qadi pada pengadilan tunggi pada Khalifah ke-Dua dari Daulat Muwahiddin 558H/1163M - 580H/1184M.

Dari kholifah inilah beliau mendapatkan kedudukan yang tinggi, dari kedudukannya itu beliau lantas mengumpulkan para Cendikiawan yang hidup pada masanya untuk ikut bergabung dan mengkaji bersamanya didalam Istana Kekhalifahan.

Diantara para Cendikiawan tersebut tercatat pula nama seorang Filosof terkenal seperti halnya Ibnu Rusyd dan IbnuBajjah yang diundang sekaligus diberi amanat untuk mengulas buku-buku karya Aristotales. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya IbnuThufail dalam menggali pengetahuan.

IbnuThufail melepas jabatannya sebagai dokter pemerintahan pada tahun 578H/1182M karena beliau merasa usianya sudah lanjut. Sebelum beliau benar-benar mengundurkan diri dari jabatannya beliau sempat memberikan anjuran agar kelak yang menggantikan kedudukannya adalah IbnuRusyd.

Meskipun telah mengundurkan diri dari kursi jabatannya, beliau tetap mendapat penghargaan dari Abu Ya’kub. Bahkan ketika Ibnu Thufail telah meninggal dunia, beliau masih mendapat penghargaan dari Abu Yusuf al-Mansyur.

Ibnu Thufail meninggal di Maroko pada tahun 581H, pada saat itu al-Mansyur sendiri menyempatkan diri untuk hadir dalam upacara pemakaman IbnuThufail.

Karya

Semasa hidupnya IbnuThufail dikenal sebagai seorang Dokter, Filosuf, ahli Matematika, dan juga seorang Penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid Sepanyol. Beberapa buku biografi menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Thufail menyangkut beberapa tema, seperti Filsafat Fisika, Metafisika, Kejiwaan, selain itu juga ada beberapa Risalah-risalah (Surat-surat) yang dikirimkannya kepada Ibnu Rusyd dll.

Akan tetapi hal yang sangat disayangkan adalah dari keseluruhan karya-karya IbnuThalhah tersebut tidak secara keseluruhan dapat dengan mudah kita nikmati pada saat ini. Kemungkinan terbesar hal ini tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa akhir kejayaan umat Islam dimasa lampau yang menyebabkan hilang dan berpindahnya karya-karya monumental dari para Cendikiawan Islam tempo dulu, tidak terkecuali dengan karya-karya IbnuThalhah ini (mungkin).

Sampai saaat ini karyanya yang terkenal dan masih dapat diakses secara mudah hanyalah risalah Hay bin Yaqadhan yang menurut beberapa orang merupakan intisari dari pemikiran-pemikiran Filsafat IbnuThufail.

Karya ini sekarang telah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, suatu naskah di perpustakaan Escurial yang berjudul “Asror al-Hukmat al-Masyriqiyyah” (risalah-risalah filsafat timur) tidak lain adalah suatu bagian dari risalah Hay bin Yazadhan.

Karya Hayy IbnuYaqzan

Ada yang mengatakan bahwa IbnuTufail lebih cenderung pada perenungan atau bahkan pemikiran dari pada menulis. Mungkin ini juga salah satu penyebab mengapa kita sering kesulitan mencari karya-karya IbnuThufail.

Meski begitu kita beruntung masih bisa menikmati risalah Hay bin Yazadhan. Karya IbnuThufail ini merupakan suatu pemikiran yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya judul ini telah diberikan oleh Ibnu Sina pada salah satu karya eksotiknya, demikian juga dengan nama-nama tokohnya seperti Asbalah dan Salamah .

Dalam muqadimahnya, IbnuThufail menyebutkan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah untuk menyaksikan kebenaran (al-Haq) menurut cara-cara yang ditempuh oleh para ahli al-Zauq dan Musyahadah (para ahli tasawuf yang telah mencapai tingkat kewalian).

Pada dasarnya roman ini mengisahkan tentang dua jenis kehidupan manusia di-dua pulau. Pulau pertama berisi kehidupan individu manusia, sedangkan pulau ke-dua berisi tentang kehidupan masyarakat manusia.

Kedua jenis kehidupan yang berbeda tersebut dicoba dipertemukan oleh IbnuThufail, namun hal itu tidak berhasil, hanya sebatas tingkatan “saling mengerti”. Masing-masing kehidupan itu terkait dengan proses, alat tingkat pengetehuan (ma’rifah), dan rumusan kebahagiaan yang dapat dicapai.

Secara ingkas isi dari risalah IbnuTufail dapat digambarkan seperti ini:

Kisah itu dimulai dengan kelahiran mendadak Hay di sebuah pulau kosong. Kemudian dia dibuang di tempat terpencil oleh saudara perempuan seorang raja. Dengan maksud agar perkawinannya dengan Yaqzan tetap terahasiakan. Di mana tempat pembuangan tersebut tidak diketahui oleh kehidupan masyarakat. Di tempat itu dia diberi makan oleh seekor Rusa kecil.

Di samping itu ia juga diajari oleh pemikiran-pemikiran alamiahnya atau akal sehat, walaupun terkadang menurut orang lain mungkin terkesan tidak masuk akal, namun justru karena hal itu dia malahan bisa menyelidiki rahasia segala benda. Rupanya binatang tersebut mempunyai kesadaran akan ketelanjangannya dan ketiadaan perlindungan atas dirinya. Anak tersebut di atas oleh IbnuTufail dinamakan Hay Ibnu Yaqzan.

Penghidupan Hay kemudian berkembang mengikuti masyarakat yang amat primitif itu mulai dari langkahnya yang pertama. Dilihatnya semua hewan tertutup auratnya dengan kulit dan bulu. Lalu ditirunya. Diambilnya bulu-bulu burung dan daun-daun kayu guna menutup aurat.

Pada suatu hari terlihat oleh Hay terjadi kebakaran di pulau itu. Api itu diambilnya, lalu dinyalakannya kayu-kayu terus menerus. Dengan kayu itu dicobanya membakar burung, lalu terasalah baginya makanannya yang lebih lezat setelah dimasak itu.

Dia mulai berburu hewan guna dimasak dan dimakan. Untuk menemaninya berburu itu lalu dipeliharanya seekor anjing. Makanan yang berlebih disampan untuk hari berikutnya. Dengan inilah timbullah peradabannya yang pertama.

Hingga suatu ketika, kijang yang mengasuhnya sejak kecil sakit dan makin hari makin lemah, akhirnya tidak bergerak lagi, yaitu mati. Di samping susah, Hay menjadi heran, sebab belum pernah melihat seekor hewan mati dengan sendirinya tanpa pembuhuhan. Akhirnya Hay mulai memikirkan sungguh-sungguh mengapa ada peristiwa kematian itu.

Kemudian badan kijang itu dioperasinya, diperiksanya kalau-kalau ada anggotanya yang rusak. Ternyata semua masih lengkap, dan akhirnya Hay mengerti bahwa sebab kematian itu berada di luar badannya. Dia bertanya, siapakah yang berkuasa di luar badannya itu? Dengan ini sampailah pemikiran Hay kepada pengakuan ketuhanan. Dia percaya kepada Tuhan, dan dia juga tidak lagi mementingkan soal makan secara berlebihan sebab ia sadar pada akhirnya dia juga mati.

Selain itu tersebut pula sebuah pulau lain yang lebih besar dan berpenduduk banyak. Di sana manusia hidup hanya mementingkan keduniaan dan berfoya-foya saja. Karena penghidupan maksiat itu, seorang penduduknya yang alim mengasingkan diri dari pulau maksiat itu, lalu melarikan diri ke pulau tempat Hay tinggal.

Di sana dia berjumpa dengan Hay. Setelah dia mengajari Hay tutur bahasa manusia, maka mereka berduapun mengadakan tukar pikiran. Disinilah IbnuTufail menggambarkan bagaimana alam pikiran Hay yang berkembang sendiri itu dapat saja sesuai pendapatnya dengan alam pikiran sialim yang terpelajar dari masyarakat ramai itu.

Suatu waktu keduanya meninggalkan pulau terasing itu dengan mengembara ke sebuah kota yang ramai. Di sana keduanya mengajari orang banyak agar mereka menjauhi dunia. Di tengah masyarakat ramai ini Hay melihat bagaimana manusia hidup berfoya-foya dan mengejar kekayaan semata-mata.

Mula-mula Hay mengkritik sistem zakat yang dianggapnya menyebabkan orang berlomba-lomba mengejar kekayaan. Akan tetapi, kritik Hay ini dibantah oleh temannya bahwa zakat itu malahan yang menuntun orang banyak itu. Kekayaan mereka diatur oleh agama untuk kebahagiaan orang-orang miskin.

Hay kemudian mengerti maksud agama yang menuntun langsung secara praktis fitrah dan keselamatan orang banyak itu. Akhirnya dalam buku ini dikatan bagaimana Hay dan temannya pulang kembali ke pulau tempat mereka mengasingkan diri hingga meninggal.

Ajaran Filsafat IbnuTufail

1. Tentang Dunia

Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya? Dalam filsafat muslim, IbnuTufail, sejalan dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana Kant.

Tidak seperti para pendahulunya, tidak menganut salah satu doktrin saingannya, dia pun tidak berusaha mendamaikan mereka. Di lain pihak, dia mengecamdengan pedas para pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentangan tak terbatas.

Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat mendahului mereka dalam hal waktu, dan yang tidak dapat sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Begitu pula konsep creatio ec nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama.

Sebagaimana al-Ghazali, dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidakmaujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahuui kemaujudan dunia dikesampingkan.

Lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang Pencipta menciptakan dunia saat itu dan bukan sebelumnya? Apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? Tentu saja tidak, sebab tiada sesuatupun sebelum Dia untuk membuat sesuatu terjadi atas-nya. Apakah hal itu mesti dianggap bersumber dari suatu perubahan yang terjadi atas sifat-Nya? Tapi adakah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut?

Karena itu IbnuTufail tidak menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini .

2. Tentang Tuhan

Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tak bisa maujud dengan sendirinya. Juga, sang Pencipa bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta.

Di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda. Dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak dapat mengenali-Nya lewat indera kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.

Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, membutuhkan penggerak atau penyebab efisien dari gerak itu. Jika penyebab efisien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas.

Oleh sebab itu penyebab efisien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. Ia tidak boleh dihubungkan dengan materi ataupun dipisahkan darinya, ada di dalam materi itu atau tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efisien itu, sesungguhnya lepas dari itu semua.

Tuhan dan dunia yang keduanya kekal, bagaimana bisa yang pertama dianggap sebagai penyebab adanya yang kedua? Dengan mengikuti pandangan IbnuSina, IbnuTufail membuat perbedaan antara kekekalan dalam esensi dan kekekalan dalam waktu dan percaya Tuhan ada sebelum adanya dunia dalam hal esensi tapi tidak dalam hal waktu.

Ambillah satu contoh, jika kau pegang sebuah benda dengan tanganmu dan kau gerakkan tanganmu, maka benda itu , tak pelak lagi, akan bergerak dikarenakan gerak tangan itu, jadi gerak itu bergantung kepada gerak tangan. Gerak tangan mendahului gerak benda dalam esensinya, dan gerak benda diambil dari gerak tangan tersebut, meskipun dalam soal waktu keduanya tak saling mendahului.

Mengenai pandangan bahwa dunia dan Tuhan sama-sama kekal, IbnuTufail mempertahankan pendapat mistisnya bahwa dunia itu bukanlah suatu yang lain dari Tuhan. Dan mengenai esensi Tuhan yang ditafsirkan sebagai cahaya yang sifat esensialnya merupakan penerangan dan pengejawatahan, sebagaimana dipercaya oleh al-Ghazali, IbnuTufail memandang dunia ini sebagai pengejawatahan dari esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahaya-Nya sendiri yang tidak berawal atau berakhir.

Dunia tidak akan hancur sebagaimana yang ada pada kepercayaan akan Hari penentuan. Kehancurannya berupa keberalihannya menjadi bentuk lain dan bukannya merupakan suatu kehancuran sepenuhnya. Dunia mesti terus berlangsung dalam satu atau bentuk lain, sebab kehancurannya tidak sesuai dengan kebenaran mistis yang tinggi yaitu bahwa sifat esensi Tuhan merupakan penerangan dan pengejawatahan kekal.

3. Tentang Kosmologi Cahaya

Ibnu Tufail menerima prinsip bahwa dari satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manifestasi kemajemukan kemaujudan dari yang satu dijelaskankannya dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan. Proses itu pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin.

Cahaya matahari yang jatuh pada cermin dan yang dari sana menuju ke yang lain dan seterusnya, menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri, bukan pula sesuatu yang lain dari matahari atau cermin itu.

Kemajemukan cahaya yang dipantulkan itu hilang menyatu dengan matahari kalau kita pandang sumber cahaya itu, tapi timbul lagi kalau kita pandang cermin, yang di situ cahaya tersebut dipantulkan. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama beserta perwujudannya di dalam kosmos.

4. Epistemologi Pengetahuan

Tahap pertama, jiwa bukanlah suatu tabula rasa, atau papan tulis kosong. Imaji Tuhan telah tersirat di dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih, tanpa prasangka.

Keterlepaan dari prasangka dan kecenderungan sosial, sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hay di pulau kosong. Setelah hal ini tercapai, pengalaman, inteleksi dan ekstase memainkan dengan bebas peranan mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran yang melekat pada jiwa.

Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan semua indera dan akal, yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan analar (Kant), disatu pihak, dan kesesuaian antara nalar dan intuisi (Bergson dan Iqbal), dipihak lain membentuk esensi epistimologi IbnuTufail.

Pengalaman akan menjadi suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-organ indera ini berfungsi berkat jiwa hewani yang ada di dalam hati, dari sana berbagai data indera yang kacau mencapai otak menyebarkannya ke seluruh tubuh lewat jalur syaraf. Kemudian dikirimkan ke otak lewat jalur yang sama, di situ diproses menjadi satu kesatuan perspektif.

Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang oleh akal induktif, dengan alat-alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu, yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa (seperti Aristoteles) sebagai penyebab fungsi tertentu berbagai benda.

Tapi hipotesis semacam itu tidaklah dapat dipertahankan atas dasar induktif, sebab bentuk jiwa yang dimaksud itu tidak dapat diamati secara langsung. Tak pelak lagi tindakan-tin dakan tampa muncul dari suatu tubuh tertentu; tapi kenyataannya, mereka tidak ditimbulkan bukan oleh tubuh itu atau ruh tubuh itu, melainkan oleh sebab tertentu yang ada di luarnya dan sebab itu ialah Tuhan.

Mengikuti pendapat al-Ghazali dan mendahului pendapat Hume. IbnuTufail tidak melihat adanya kekuatan pada sebab yang bisa mendatangkan pengaruh sebagaimana biasanya. Empirisme Hume berakhir dalam skeptisisme.

Tapi ketasawufan IbnuTufail membuatnya melihat bahwa ikatan sebab akibat merupakan suatu tindak perpaduan yang dianggap berasal dari Tuhan, tapi oleh Kant hal itu dianggap berasal dari bentuk a priori pemahaman. IbnuTufail sekaligus berada di depan Bacon, Hume dan Kant.

Dia telah mengemukakan terlebih dahulu metode induktif ilmu modern; melihat ketidakmampuan nalar teoritis untuk menjawab teka-teki mengenai kekekalan dan penciptaan sementara dunia ini, juga ketidak mampuan akal induktif untuk menetapkan suatu hubungan yang tegas antara sebab dan akibat dan akhirnya menjernihkan awan skeptisisme dengan membuat pernyataan bersama al-Ghazali bahwa rangkaian sebab akibat itu merupakan tindakan terpadu Tuhan.

Setelah mendidik akal dan indera serta memperhatikan keterbatasan keduanya, IbnuTufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa, yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, tapi dapat dilihat secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada di dalamnya.

Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang pernah dilihat mata atau didengar telinga, atau dirasa hati orang manapun. Taraf ekstase tak terkatakan atau terlukiskan, sebab lingkup kata-kata terbatas pada apa yang dapat dilihat, didengar atau dirasa. Esensi Tuhan yang merupakan cahaya suci hanya bisa dilihat lewat cahaya di dalam esensi itu sendiri, yang masuk ke dalam esensi itu lewat pendidikan yang tepat atas indera, akal serta jiwa. Karena itu pengetahuan esensi merupakan esensi itu sendiri. Esensi dan visinya adalah sama.

5. Etika/Akhlak

Manusia merupakan suatu perpaduan tubuh, jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dan dengan demikian menggambarkan binatang, benda angkasa dan Tuhan. Karena itu pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek sifatnya, dengan cara meniru tindakan-tindakan hewan, benda-benda angkasa dan Tuhan.

Mengenai peniruannya pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya akan kebutuhan-kebutuhan pokok serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas, dengan satu tujuan yaitu mempertahankan jiwa hewani. Peniruan yang kedua menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup, perenungan atas esensi Tuhan dan perputaran esensi orang dalam ekstase.

IbnuTufail tampaknya percaya bahwa benda-benda angkasa memiliki jiwa hewani dan tenggelam dalam perenungan yang tak habis-habisnya tentang Tuhan. Terakhir, dia harus melengkapi dirinya dengan sifat-sifat Tuhan, baik yang positif maupun yang negatif, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijakaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah, dan sebagainya.

Melaksanakan kewajiban demi diri sendiri, demi yang lainnya dan demi Tuhan, secara ringkas merupakan salah satu disiplin jiwa yang esensial. Kewajiban yang terakhir adalah suatu akhir diri, dua yang disebut sebelumnya membawa kepada perwujudannya dalam visi akan rahmat Tuhan, dan visi sekaligus menjadi identik dengan esensi Tuhan.

6. Filsafat dan Agama

Filsafat mengarah kepadasuatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam konsep-konsep dan imajinasi yang sesungguhnya, tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Bahasa merupakan hasil dari kebutuhan-kebutuhan material lingkungan sosial dan karena itu hanya dapat menyentuh dunia fenomena semata.

Dunia angkasa, yang abstrak dan non bendawi, tidak dapat dijangkau. Bila dilukiskan dengan lambang-lambang bendawi, maka ia akan kehilangan esensinya dan bisa orang menganggapnya tidak sebagaimana yang sebenarnya.

Kalau begitu mengapa al-Quran melukiskan dunia atas itu dalam ibarat-ibarat, sehingga pandangan yang lebih jelas terkesampingkan dan orang bisa jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan fatal karena menganggap pemenuhan kebutuhan jasmaniah sebagai esensi Tuhan, padahal Dia lepas dari itu? Dan mengapa Kitab Suci tidak hanya sekedar memberikan ajaran-ajaran dan tatacara pemujaan dan memberi manusia izin untuk mengumpulkan kekayaan serta memberinya kebebasan mencari makan, yang dengan cara itu mereka mengejar tujuan yang sia-sia dan berpaling dari kebenaran? Tidakkah kebutuhan yang sana terpenting dari jiwa itu ialah membebaskan diri dari hasrat-hasrat serta ikatan-ikatan duniawi sebelum dia memulai perjalannya menuju surga? Apakah manusia mau mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi untuk mengikuti kebenaran, jika mereka mencapai pengetahuan murni sehingga mampu memahami segala sesuatu dengan benar?

Kegagalan menyedihkan Hayy dalam upaya memberi penerangan kepada massa dengan jalan memberikan konsep-konsep murni itu, membuka jalan bagi menjawan pertanyaan-pertanyaan di atas,Nabi berlaku bijak dengan memberi mereka bentuk-bentuk yang dapat ditangkap oleh indera dan bukannya penerangan melulu, sebab mereka tidak memiliki jalan keselamatan yang lain.

Bila mencapai pengetahuan murni, mereka akan terguncang dan jatuh dan berakhir dengan buruk. Bagaimanapun, meski IbnuTufail menyuarakan kebijaksaan Neara Muwahhid tentang penahanan pengajaran filsafat kepada orang kebanyakan, namun dengan jelas dia mengakui adanya sekelompok orang berbakat yang patut mendapatkan petunjuk-petunjuk filosofis dan kepada mereka paling baik ditanamkan pengetahuan serta kebijaksanaan dengan jalan mengemukakan kiasan-kiasan.

Agama diperuntukkan bagi semua orang; tetapi filsafat hanya bagi orang-orang berbakat yang sedikit jumlahnya. Kelebihan mereka harus dipisahkan secara hati-hati. Tak pelak lagi, filsafat harus diphami secara bersamaan dengan agama, keduanya membawa kepada kebenaran yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka berbeda bukan hanya dalam metode dan lingkup, tapi juga dalam taraf rahmat yang mereka anugerahkan kepada para pengikut setia mereka.

Agama melukiskan dunia dengan lambang-lambang eksoteris. Dia penuh dengan perbandingan, persamaan, gagasan-gagasan antropomorfis, sehingga akan lebih mudah dipahami oleh orang-orang, mengisi jiwa dengna hasrat dan menarik mereka kepada kebajikan dan moralitas. Filsafat, dilain pihak merupakan bagian dari kebenaran eksoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep dan imaji-imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang diisi esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu.

Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabipun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan, mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan Nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.

Filsafat merupakan masalah khusus individu, ia mensyaratkan perangai dan bakat tertentu untuk menangkap penerangannya. Agama, sebaliknya merupakan suaut disiplin sosial. Pandangannya bersifat melembaga, bukan individu. Tujuannya kurang lebih yaitu kebaikan massa secara umum tanpa menghiraukan perbedaan-perbedaan individu dalam kemampuan dan kecerahan batiniah.

Filsafat menghadapkan kita kepada realitas. Ia menuntut perenungan terus menerus atas kebenaran, visi jelas cahaya utama, sumber segala kemaujudan, dengan melepaskan semua ikatan duniawi. Agama tidak demikian tegar dalam ketentuan-ketentuannya.

Ia mengutuk ketertapaan dalam arti apapun, sebab manusia pada umumnya tidak mampu mencapai hal itu. Oleh karena itu agama menetapkan syarat mutlak yang paling mudah dilaksanakan dan memberikan kepada manusia izin untuk menjalani kehidupan duniawi, asal tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.

Dengan demikian para filosuf mampu mencapai kebahagiaan yang tinggi. Sedangkan orang kebanyakan harus merasa puas dengan kebahagiaan kedua dan tidak dapat meningkat lagi, dikarenakan keterbatasan diri mereka. Kemudian teori ini di bawah pengaruh IbnuRusyd, mempersenjatai sarjana Eropa terhadap Gereja dengan doktrin kebenaran lipat dua, John dari Brescia dan Siger dari Brabant menjadi dua wakil utama. Cerita ini tampaknya belum berakhir di sini; sebab sikap individualistik yang menguntungkan dari filsafat modern, suatu sikap yang membedakannya dari pandangan zaman suatu dasar yang khas dari teori itu.



DAFTAR PUSTAKA

Mustofa, Filsafat Islam; untuk fakultas tarbiyah, dakwah, dan Ushuluddin. Komponen MKDK. CV Pustaka Setia, 1997.
Purwantana. Ahmadi&Rosali, Seluk Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosydakarya, 1994.
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam; filosof dan filsafatnya. PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta 2004.
Nasution, Hasyimah. Filsafat Islam. Gema Media Pratama, Jakarta 1999.

Selasa, 03 Maret 2009

Filsafat Islam, Kajian yang Mulai Terlupakan

Filsafat, siapa yang kenal dengan istilah ini? Jika Anda bertanya kepada masyarakat umum dapat saya pastikan, citra filsafat itu tidak selamanya indah / baik. Kalau boleh membuat perbandingan, mungkin jumlahnya antara 10:90.

Maksudnya, kira-kira hanya ada 10% masyarakat yang mengidentikkan kata filsafat dengan sesuatu yang indah, baik dan berguna. Selebihnya (yang sebenarnya mayoritas orang tidak faham filsafat) akan mengidentikkan istilah filsafat dengan sesuatu yang menyeramkan, kurang terawat (mungkin diidentikkan dengan gaya para filosof / mahasiswa filsafat yang identik bebas) dan memiliki cara berfikir berputar-putar / rumit.

Porsi untuk orang yang memandang filsafat dengan cara itu kira-kira 40%. Setelah itu masih ada 50% yang dibagi menjad golongan "Tahu Filsafat Setengah-Setengah" dan umumnya orang model ini yang sering mengkatagorikan kajian Filsafat dalam wilayah "Subhat" / membahayakan akidah (bisa membuat tidak percaya pada tuhan). Kira-kira presentasenya sekitar 30%.

Sisanya, 20% adalah orang-orang yang tidak suka sama sekali dengan filsafat. Sebelum melangkah pada pembahasan, untuk menyamakan persepsi tentang Filsafat Islam, penulis merasa ada baiknya jika pada tulisan yang ringkas ini penulis tambahkan sedikit pengantar pembahasan mengenai Filsafat Islam itu senditri. 

Jika dilihat dari pengertian praktisnya, kata Filsafat itu sendiri memiliki penyerupan makna atau pengidentikan makna dengan Alam Fikir atau bahkan Alam Berfikir meskipun jika ditinjau dari makna semantiknya kata Filsafat memiliki makna Suka atau Cinta (Philo) dan Pengetahuan atau Hikmah, Kebijaksanaan (Shopia).

Atas dasr inilah Drs.Poerwartana memaknai ber-Filsafat sebagai suatu proses pemikiran terhadap hakekat sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh. Dengan kata lain Filsafat menurut Drs.Poerwartana merupakan suatu ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu.

Ini senada dengan pendapatnya seorang filosof muslim terkenal “Al-Farbi” yang mengatakan bahwa Filosuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya untuk mencari Hikmah (Hakekat dari segala sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh) yakni mema’rifati Allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan.

Dari sedikit pemaparan diatas paling tidak dapatr kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelupkan kedalam ajaran-ajaran Islam untuk membahas hakekat kebenaran dari segala sesuatu.

Meskipun demikian, dalam pandangan kaum cendikiawan Islam sendiri terkadang tedapat suatu permasalahan tentang Filsafat Islam itu sendiri, apakah itu sebuah Filsafat Islam atau Filsafat Arab? Atau mungkin bahkan dalam perjalanannya mendatang ada istilah lain dari keduanya.

Dalam hal ini Prof.Mu’in menyatakan apabila Filsafat itu disebut dengan Filsafat Arab, berarti mengeluarkan para Filosuf yang berasal dari Iran, Afganistan, India, dll. Karenanyalah Prof.Mu’in lebih memilih dengan Filsafat Islam karena ini berarti lebih umum yakni setiap Filosuf yang beragama Islam baik itu di Iran, Afganistan, India, dll.

Hal senada juga disebutkan oleh seorang Orientalis dan budayawan Iran yang berkebangsaan Prancis “Corbin”, ia lebih tertarik dan membela istilah Filsafat Islam daripada Filsafat Arab. Hal ini sebagaimana yang ia katakana bahwa; “Jika kita mengambil nama Filsafat Arab pengertiannya akan sangat sempit sekali bahkan akan keliu”.

Pendapat itu sebenarnya bersebrangan dengan pandangan Mauric De Wild, Emik Brehier, dan Lutfi as-Sayid yang lebih senang menyebutnya dengan Filsafat Arab. Alasannya karena kajian Filsafat tersebut ditulis dalam bahasa Arab, dan diterjemahkan dalam bahasa Arab yang tentu saja dengan menambahkan unsur-unsur baru yang ada dalam bahasa Arab tersebut.

Selain itu jika Filsafat ini dimaknai dengan Filsafat Islam bagamana sebutan untuk para pemikir atau Filosuf yang hidup dibawah bendera Islam dan mengeluarkan buah-buah Intelektualnya tentang Islam padahal ia sendiri bukan orang Islam? (gmana kalo kejadian gitu???) Up 2 U pilih mana.

Dalam hal ini penulis lebih cocok dengan istilah Filosof Islam mengingat selain sebagai agama, Islam juga merupakan suatu peradaban. Pemikiran Filsafat Islam juga memiliki pengaruh terhadap peradaban Islam sendiri, sehingga setiap Filosof yang muncul dibawah naungan bendera Islam dan memiliki corak pemikiran Islam, baik deri problem-problem yang diangkatnya, motif pembinaannya, maupun tujuannya dapat disebut sebagai Filosuf Islam, meskipun banyak sumbernya serta berbeda-beda orang dan daerahnya.