Selasa, 22 November 2011

SARJANA, dalam Kenyataan dan Image Masyarakat. (Sebuah refleksi)


Satu tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai saat itu (Agustus 2010.red) paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Dengan perincian jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sampai saat itu tercatat berjumlah 108,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, ternyata sebanyak 54,5 juta (50,38%) merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah (Tidak berpendidikan).

Tanggal 17 Desember 2011 nanti UIN Sunan Kalijaga akan mengadakan Wisuda yang berarti akan melepaskan para ahli-ahlinya (sarjananya.red). Bagi sebagian orang Wisuda dimaknai sebagai pesta keberhasilan, namun ada juga yang memandangnya sebagai pintu keluar semata, bahkan lebih miris ada yang memaknai sebagai pintu penganggura intelektual.

Saya hanya membayangkan, jika perguruan tinggi setingkat UIN Sunan Kalijaga saja mampu membai'at lebih dari 60 sarjana tiap periodenya (padahal satu tahun ada tiga periode) bagaimana dengan perguruan tinggi yang lebih besar? Jika kita dipatok rata-rata setiap perguruan membai'at 50 sarjana / diplomat saja dalam tiap acara wisuda kita bisa menyimpulkan bahwa Indonesia ini, benar-benar dipenuhi manusia berpendidikan bergelar sarjana.

Ah, kembali saya teringat lyrik lagu Bang.Iwan yang berjudul "Sarjana Muda" katanya:
.........Empat tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya....... 
Sepintas saya bisa menghibur diri karena dalam masa perkuliahan saya lebih dari 4th, jadi tidak seharusnya saya tersindir dengan lagu itu dan menurut pengalaman dengan lebih dari 4th itu harusnya saya berani meradang menerjang mereka yang hanya 4th hehehee... Tapi, alih-alih berfikir objektif, mungkin itu hanya rasionalisasi yang ditujukan untuk menghibur diri saja. Pada kenyataannya sarjana pengangguran adalah problematika bangsa kita sejak zaman dahulu (setidaknya menurut Bang.Iwan dalam bincang-bincang bersamanya ketika menyampaikan latar belakang lagu Sarjana Muda).

Kesempatan kerja yang ada tidak sebanding dengan wisudawan yang dihasilkan kampus setiap tahunnya dituduh sebagai penyebab banyaknya pengangguran intelektual ini. Jika rata-rata yang saya katakan diatas kita hitung, maka ada jutaan wisudawan di seluruh Indonesia baik yang dihasilkan PTS ataupun PTN. Sedangkan lapangan pekerjaan yang ada mungkin tidak sampai 50% mampu menampung mereka. Terlebih lagi dengan adanya moratorium penghentian penerimaan PNS karena mayoritas mahasiswa yang kuliah itu ingin menjadi PNS (Padahal Rasyid Ridha keluar dari sekolah karena tidak mau jika setelah lulus menjadi PNS).

Semangat belajar untuk menjadi PNS menurut saya bukanlah semangat dasar pendidikan negri ini, karena identitas pembelajaran negri ini itu jelas tertulis “Untuk mencerdaskan bangsa”. Bukan untuk menciptakan para pegawai, buruh atau kaum kapitalis – borjuis yang hanya akan menindas mereka yang tidak belajar (Rakyat.red).

Disinilah akar kemiskinan nilai-nilai pembelajaran kita, orang yang sekolah diidentikkan sebagai orang yang mencari ijazah saja, dan ijazah itu difahami sebagai jimat sakti untuk mencari kerja. Pemahaman seperti itu seakan sudah merasuk kedalam sanubari bangsa ini, mereka lupa akan tujuan dasar pendidikan itu sendiri. Bukan hanya orang kampung yang berpandangan seperti itu, lihat saja orang-orang kota yang berdasi bahkan para professor doctor sekalipun, mereka menyulap universitas-universitas dari asas aslinya “Mencerdaskan Bangsa” menjadi “Agent yang secara khusus pencetak kaum kapitalis modern” semuanya dilakukan demi kepentingan pasar.

Saya tidak mengada-ada mengatakan hal itu, lihat saja misal: “UIN Sunan Kalijaga” tempat saya kuliah, hampir setiap bertemu orang dan ditanya “Kau kuliah dimana?” kalau saya jawab jujur pasti pertanyaan selanjutnya tidak jauh dari “Memangnya setelah lulus dari situ bisa kerja dimana?”. Itulah realitas sosial masyarakat kita, ketika uang sudah dianggap sebagai tujuan utama dan tanpa uang manusia akan merasa lemah, maka hampir seluruh usaha manusia ditujukan demi mendapatkan uang. Bahkan nilai-nilai luhur pendidikan untuk mencerdaskan bangsa juga diganti dengan “Pendidikan hanya untuk mencari kerja”.

Akibat paling fatal dari pemahaman terhadap pendidikan yang salah kaprah seperti itu adalah beredarnya jual-beli pendidikan, jual-beli gelar dan jual-beli ijazah. Untuk kata-kata ini saya juga tidak mengada-ada, silahkan anda search info atau berita tentang “para calon pimpinan daerah yang dicegal karena kasus Ijazah palsu” atau “Praktik illegal jual-beli ijazah dll”, di Google saja banyak apalagi yang tidak terekam. Umumnya kerja illegal adalah kerja bawah tanah, jika yang muncul ke permukaan saja banyak berarti yang dibawah tanah pasti lebih banyak lagi. Dengan banyaknya praktik illegal itu maka wajar saja jika kita temui sangat banyak sarjana yang kapasitasnya masih jauh dari kualitas Insan Akademik atau Intelektual.

Para sarjana sering diidentikkan sebagai kaum intelektual, namun pada kenyataannya tidak setiap sarjana itu benar-benar seorang intelektual. Sarjana adalah gelar bagi orang yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, sedang intelektual adalah seseorang yang cerdas, berfikir dengan berlandaskan ilmu pengetahuan. Ada perbedaan mendasar disana, namun (sebagaimana umumnya, bahasa hanyalah kebiasaan) kata sarjana tetap saja identik dengan intelektual walaupun tidak semua sarjana benar-benar memiliki kualitas “intelektual”.

Problem ini harus segera dijawab pemerintah dan lembaga pendidikan, jika tidak mau melihat makin banyaknya pengangguran bergelar sarjana. Jangan sampai moment wisuda menjadi pintu keluar sarjana pengangguran tanpa kesempatan kerja yang pasti. Jangan sampai juga pendidikan terus diasumsikan sebagai “cara mencari pekerjaan” saja.

Sampai disini memang ada permasalahan mendasar yang juga tidak kalah penting, kenyataan bahwa “Tanpa uang, manusia hampir tidak bisa melakukan apa-apa” meniscayakan usaha untuk mencari uang itu adalah hal yang “Mutlak dibutuhkan”. Namun menggadaikan pendidikan kepada pasar bukan jalan terbaik bagi pemecahan masalah ini. Karena seperti yang saya katakana diatas bahwa “Pendidikan yang diarakhan ke pasar, hanya akan memunculkan para penindas-penindas baru yang melestarikan ketimpangan sosial”. Pada titik inilah benturan keras antara Idealisme dimana “sarjan” sebagai kalangan “intelektual” seharusnya mampu mengayomi masyarakat, memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan dst, dengan Realitas dimana “sarjan” itu juga manusia biasa bukan dewa sakti mandra guna. Mereka yang bertahan dengan idealismenya rata-rata hanya hidup biasa saja bahkan cenderung miskin, sedang mereka yang mengedepankan realitas kemudian ikut fight dalam kacah dunia kapitalis bisa menjadi kaya raya namun tak jarang mereka menjadi penindas.

Permasalahan ini sudah lama menjadi “PR” pemerintah dan lembaga pendidikan. Ada lembaga pendidikan yang tetap idealis dan akibatnya mahasiswanya sedikit karena tidak sesuai dengan permintaan pasar yang sudah mengakar keurat rakyat. Sebut saja misal Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, apalagi Jurusan Filsafat dan Sosiologi Agama yang dari dahulu jumlahnya tidak pernah mampu menyaingi Jurusan-jurusan di Fakultas Saintek. Sedangkan lembaga yang menggadaikan idealism pendidikan dengan pasarnya bisa anda lihat sendiri (biasanya mereka tidak suka disebut begitu, namun kenyataannya memang begitu). Sebagai pisau analisis anda bisa melihat pada brosur atau iklannya, mayoritas lembaga yang sudah berafiliasi atau bahkan pesanan pasar akan dengan sangat bangganya memamerkan bahwa “Lulusan dari sini akan kerja di sini” atau “para alumni kami bekerja di ….. dst” atau juga “kami telah bekerjasama dengan beberapa instasi dan mereka mempercayakan tenaga ahli dari lulusan kami dst”. Silahkan cari sendiri, banyak ko’ & bagi saya itu bukti bahwa identitas pendidikan untuk mencerdaskan bangsa telah beralih menjadi pendidikan untuk mencari kerja. Agent of Control telah beralih halauan menjadi Agent of Kapitalis.

Jalan keluar untuk menengahi kedua permasalahan mendasar itu sebenarnya  sering diusahakan. Misal di UIN Sunan Kalijaga dibawah pimpinan Musa As’ari akhir-akhir ini seolah “meneriakkan” agar mahasiswa menjadi interpreneur. Interpreneur dianggap sebagai jalan keluar bagi mahasiswa dan calon sarjana. Karena dengan jiwa ini (wirausaha.red) mahasiswa tidak akan lagi tergantung pada intansi atau lowongan pekerjaan, namun dia diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat membantu mengentas angka pengangguran.

Glombang interpreneur terjadi beguiling-guling di UIN Sunan Kalijaga baik yang interpreneur murni sampai interpreneur karbitan. Akan tetapi konsep ini juga bukan berarti sempurna dan berjalan tanpa kritik. Banyak yang beranggapan bahwa konsep interpreneur ini seolah mengarahkan mahasiswa untuk menjadi “pekerja saja dan mengurangi nuansa akademisnya”. Akan tetapi menurut saya, ada sebuah niat baik yang itu perlu diberi apresiasi yaitu menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang mandiri dan menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat dengan berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Namun tetap butuh control (seperti kritik untuk membangun) agar niat baik menjadikan mahasiswa sebagai pemula, pencetus dan pelopor yang menciptkan lapangan kerja bisa berjalan tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai Insan Akademik / Intelektual Sejati.

Sampai sini juga masih ada permasalahan yaitu mengenai “persepsi umum”. Masyarakat kita sudah terlanjur beranggapan bahwa “sarjana sepantasnya bekerja di kantor, bukan menyurung grobag dll”. Image itu sudah terlalu kuat, bisa kita bayangkan jika orang tua kita yang tidak tau bentuk persaingan dan peluang antara kerja di instansi dan bekerja mandiri melihat anaknya bekerja sebagai seorang wirausaha masih pemula pula, miris, anggapan “percumah sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hanya begitu” akan muncul bak hujan badai.

Dari anggapan seperti ini jua banyak sarjana yang ikut terbawa arus dan gengsi untuk terjun kedunia usaha mandiri dari bawah. Mereka yang tidak tahan itu terus beranggan bahwa sarjana yang sukses harus duduk dipemerintahan, perusahaan dan kedudukan lainnya. Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang, hampir setiap ada lowongan / CPNS sarjana berjubel seolah tanpa mempertimbangkan peluang.

Merubah image bukan hal yang mudah, namun tetap bukan hal yang mustahil. Jika pemerintah dan media mampu bekerjasama dengan baik dalam hal ini Insya Allah image tersebut akan berubah. Sudah terlalu banyak sarjana yang bukan Intelektual, sudah terlalu banyak sarjana yang menjadi sampah masyarakat, sudah terlalu banyak sarjana kolot yang hanya mau berkerja dengan dasi.

Wallahu’alam…………


Tidak ada komentar: