Rasanya masih teringat dibenak kita, tentang janji-janji & harapan-harapan pada penghujung 2009 yang lalu. Tak terasa kini 2010 akan segera berakhir. Cepat sekali bukan? Seperti biasa kita akan mengenang kembali apa yang telah terjadi dalam 1 tahun ini. Begitupun secara otomatis kita berpikir dengan rencana kita tahun depan, tentang cita-cita dan harapan-harapan yang ingin kita capai pada tahun 2011 mendatang.
Terlepas dari pro kontra perayaan “Tahun Baru”, bagi penulis jika pergantian tahun dimaknai dengan proses tersebut (Penggabungan antara “Rafleksi” “Evaluasi” & “Proyeksi”) bukan ritual khas westren yang berbau hedonis dengan segala konsekwensinya, maka tak ubahnya prosesi Tahun Baru itu sama halnya dengan “Haflah Akhirussanah”.
Secara etimologi Haflah Akhirussanah merupakan gabungan dari tiga kata. Pertama, haflah, yang berarti pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta, upacara (A. W. Munawwir, 1997: 280). Kedua, akhir, yang berarti akhir (A. W. Munawwir, 1997: 12). Ketiga, sanah, yang berarti tahun (A. W. Munawwir, 1997: 670). Jadi Haflah Akhirussanah adalah perayaan atau pesta – dengan mengacu pada arti perayaan atau pesta – akhir tahun.
Sebagaimana makna harfiyah diatas, Haflah Akhirussanah lebih condong pada arti perayaan atau pesta, namun perayaan atau pesta di sini tidak seperti perayaan / pesta secara umum (seperti pesta yang sekarang kita kenal).
Dengan kata lain, Haflah Akhirussanah mengandung makna (hikmah) yang lebih bersifat moral dan sosial. Hikmah itu, bisa kita ambil jika kita benar-benar merenungkan kesalahan-kesalahan di tahun lalu dan merencanakan hal-hal baik di tahun mendatang. Dengan demikian akan muncul beberapa dampak positif seperti :
Pertama, sikap wara’. Wara’ di sini bukan cuma sekedar keluar dari perkara subhat tetapi lebih ditekankan - seperti kata Yusup ibn Abid - pengoreksian diri dalam setiap keadaan (Risalah al-Qusyairiyah: 109-111). Sehingga dalam Haflah Akhirussanah koreksi diri sangat diperlukan, artinya apa yang dikerjakan saat ini setimpal atau seimbangkah dengan apa yang dikerjakan dalam satu tahun, baik bersifat transendental maupun sosial.
Dalam moment Haflah Akhirussanah, benar-benar dituntut untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan dan merenungkan terhadap tingkah laku, baik yang telah dikerjakan (Pra Haflah Akhirussanah). Bukan sekedar hiburan dan pentas seni saja, dan tradisi ini sudah sangat subur hidup dipesantren. Tradisi yang sudah tumbuh subur bahkan sejak sebelum bangsa Indonesia terbentuk.
Namun menjadi “Dusta” kemudian, ketika pada tahun baru kita mengucapkan janji, menebarkan mimpi-mimpi/ harapan dan cita-cita dengan tingkatan realisasi yang “Nol”. Bermimpi, bercita-cita itu penting (baca ini) sebagai penyemangat serta arahan hidup kita. Namun konsentrasi untuk mewujudkan cita-cita dalam berbagai tindakan juga tidak kalah penting dibanding berkonsentrasi dalam berencana dan bermimpi. Terlalu sering kita berkonsentrasi untuk ingin ini dan itu, tapi hanya terhenti disitu tidak dilanjutkan dengan berkonsentrasi dalam mewujudkan ini itu.
Sehingga sering terjadi (misal) mimpi-mimpi yang kita angankan ditahun 2008 dengan “PD-nya” kemudian kita ulang lagi pada tahun 2009, lantas kemudian karena tidak ada usaha sungguh-sungguh untuk mengejar mimpi kita ulangi lagi harapan-harapan itu pada tahun baru 2010, kemudian apakah menjelang tahun 2011 ini akan diulangi lagi…?
Bukan berati hal itu tidak sah, ketika impian itu belum tercapai bagi sayah sah-sah saja anda mengulanginya lagi. Tapi sadarkah anda betapa tertinggalnya anda dari citra diri yang anda idelakan sendiri, banyangkan saja citra yang seharusnya sudah terbangun pada tahun 2008, kemudian belum terwujud sampai menjelang tahun 2011 karena citra itu hanya berada ditataran konsep saja “Tanpa ada usaha untuk merealisasikannya”. Bayangkan seandainya ditahun 2008 citra itu berhasil andawujudkan, saat ini pasti anda sudah mengharapkan citra lain yang jauh lebih tinggi bukan..??
Berencana dan bercita-cita boleh saja, asalkan kita tidak lupa pada tataran realisasinya, bukan sekedar ditataran wacana ataupun bermimpi. Terkadang kita juga begitu menginginkannya cita-cita kita terwujud, hingga lupa berproses. Lupa bahwa beberapa hal tertentu, bahkan banyak hal yang ternyata butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya.
Kita terobsesi untuk menjadikan impian segera nyata, ingin instant, akhirnya menjadi seseorang yang tidak ‘menapak’, tidak realistis, tidak matang. Berproses adalah hal yang alami dalam kehidupan dan dapat membuat diri kita matang. Proses harus dijalani dengan penuh alias kesadaran, tentang mengapa, apa, bagaimana, dimana, kemana, kapan dan siapa yang sedang berproses disini. Karena diakuiatau tidak kita ini terlalu sering tidak sadar, bahkan terhadap apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita lakukan.
Dalam perjalanan berprosespun kita harus senantiasa mengevaluasi dengan menempatkan diri dilingkar luar proses tersebut, supaya kita bisa melihat proses tersebut dalam sebuah perspektif dari luar ke dalam. Kalau kita tenggelam dalam lingkar dalam proses itu saja, kita bisa saja jadi kehilangan perspektif dan kehilangan objektifitas kenapa dan untuk apa kita berproses.
Sama halnya seperti kita aktif diorganisais, pada mulanya kita berniat menjadikan organisasi itu menjadi alat untuk menempa diri, untuk belajar dll. Namun seiring dengan perjalanan waktu sering kita terlena dalam organisasi tersebut bahkan sampai menjadikan organisasi sebagai tujuan dengan mengesampingkan tujuan awal kita dan tujuan luhur “Asli” dari organisasi tersebut.
Sering kita terbuai dengan indahnya ritual-ritual dalam organisai, jika tidak pernah mengevaluasi perjalanan dan tujuan kita tidak akan sadar bahwa terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Berhenti dan mengevaluasi proses dalam berkehidupan, sama pentingnya dengan mensyukuri tiap langkah proses yang sudah di lewati dan menikmati setiap prosesnya.
Terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Jika kita sadar akan hal tersebut, tentu itu menjadi tidak terlalu bermasalah. Terkadang membiarkan diri ‘kehilangan arah’ itu baik, jika memang ‘kehilangan arah’ tersebut dilewati dengan penuh kesadaran.
Namun jika terlampau asik berproses dan sama sekali tidak menjalaninya dalam level kesadaran hingga lupa tentang kenapa dan apa objektifitas kita dalam berproses serta kemana arah proses kita ini, bisa-bisa proses yang kita alami dalam mencapai cita-citapun tidak efektif, bahkan bisa saja proses yang kita jalani menimbulkan kerusakan yang merugikan diri kita.
Wallahua’lam………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar