Sabtu, 19 November 2011

Menjadi Manusia Indonesia yang Normal

Judul itu berangkat dari pengalaman saya kurang lebih empat bulan lalu ketika pertama kali menempati kos ini (Rumah Pak.Endro, Janti 01/03). Seperti halnya umumnya anak kos yang baru menempati lingkungannya, saya berusaha membuka obrolan bersama teman-teman kos ini. Sekedar untuk mengkarabkan suasana, ngobrol tanpa tujuan pun mengalir begitu saja. Sekali dua kali ngobrol sayapun mulai mengenal mereka satu per satu. Mulai dari nama, asal daerah, kehidupan di daerahnya sampai tempat & jurusannya selama kuliah di Jogja. Ada yang menarik disini, meskipun sebenarnya dari enam tempat kos selama enam tahun saya tinggal di Jogja selalu ada nuansa baru yang khas antara satu kos dengan kos yang lainnya. Namun khusus untuk kos yang terakhir ini ada perbedaan yang jauh dari tradisi kos-kos sebelumnya. Disini hampir tidak pernah ada obrolan tentang Politik, ke Indonesiaan, Pergerakan ke Mahasiswaan, ke Masyarakatan ataupun ke Islaman.

Pernah suatu ketika saya mencoba mengarahkan pembicaraan pada ranah yang jarang tersentuh mereka itu. Namun setiap kali saya mencobanya setiap kali itu juga obrolan menjadi terhenti atau minimal tidak nyambung. Sampai akhirnya saya memahami fenomena ini, "bahwa setiap pola pikir manusia pasti terbentuk dari pengetahuan dan pengalamannya". Ya, karena seting sosial historis yang membentuk mereka tidak sama dengan seting historis yang membentuk saya dan teman-teman kos yang dulu akibatnya cara berfikir dan kecenderungannya juga berbeda. Akan sangat tidak bijak jika saya memaksakan apa yang menjadi keinginan pribadi kepada mereka. Yang paling bijak adalah mengajarinya secara perlahan dengan mengarahkan atau mengikutinya untuk memahami alur berfikir mereka baru setelah itu up to u...

Dari kedua opsi tersebut saya memilih opsi yang kedua. Meskipun tidak larut namun saya terus berusaha mengikuti untuk memahami alur berfikir mereka. Tidak pernah lagi saya memaksakan tema obrolan dengan menjadi "penyusup" dalam obrolan-obrolan hangat mereka. Sampai suatu hari selepas acara perkenalan IKAPMAWI Nasional saya bertemu dengan salah satu senior. Hal yang menarik untuk direnungi dari perkataannya itu: "Boleh lah kita idealis, berbicara tentang ideologi-ideologi dunia, tentang isu-isu ke Masyarakatan, ke Indonesiaan dll. Namun sesekali turunlah langsung ke masyarakatmu dan kamu akan tau ternyata tehnik menanam mangga jauh lebih mereka butuhkan dari pada pemahaman tentang ekonomi politik."

Dari situ saya mencoba memahami keterkaitan pernyataannya dengan jenis mahasiswa yang ada dikos baru ini. Mungkin saat ini adalah saat-saat peralihan dimana dunia ide sudah tidak lagi menarik bagi para pemuda bahkan yang menyandang gelar mahasiswa sekalipun. Bagaimana jika turun ke Masyarakat? Prediksiku juga tidak jauh berbeda, coba saja ngobrol dengan orang desa tentang kritik ekonomi politik Karl Mark, atau tentang teori politik & filsafatnya Plato dll. Saya brani jamin pasti mereka ngeblank...

Boleh kita idealis dengan faham-faham yang kita amini, namun kita juga harus sadar realitas. dan untuk memahami realitas sosial tersebut yang terbaik adalah kita turun langsung, ikut merasakan, ikut mengerti hingga akhirnya memahami. Memahami mayoritas orang Indonesia adalah petani dan mayoritas mereka miskin, memahami bahwa Indonesia adalah negara agraris yang subur dan makmur. Melupakan teknik mengolah tanah, 100% meninggalkan dunia pertanian dan peternakan tanpa kepedulian sedikitpun sama saja melupakan karunia terindah dari langit.
 

(Foto: Desa Munggang, 90% wilayahnya berupa sawah)
Indonesia adalah Negri Agraris,
Jangan Lupakan Itu...!!

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menyatakan bahwa manusia Indonesia yang normal adalah manusia yang memahami dan menyadari akan kelebihan bangsanya yang agraris serta berusaha memajukannya. Bukan manusia yang hanya berputar-putar dalam masalah ekonomi dan politik saja. Menjadi manusia Indonesia yang normal adalah menjadi manusia yang sesekali berbicara ranah praktis tentang pertaniannya atau peternakannya. Karena dengan begitu kita bisa menyatu dengan rakyat, tidak dijauhi karena tidak difahami dll. Manusia Indonesia yang tidak normal adalah manusia yang tidak menyadari kelebihan bangsanya atau bahkan cenderung meremehkan pertanian dan peternakan.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Lanjutkan...!!

kukuh mengatakan...

Lebih cepat lebih baik saja, heheheee