Minggu, 19 Desember 2010

Tahun Baru dan Haflah Akhirussanah


Rasanya masih teringat dibenak kita, tentang janji-janji & harapan-harapan pada penghujung 2009 yang lalu. Tak terasa kini 2010 akan segera berakhir. Cepat sekali bukan? Seperti biasa kita akan mengenang kembali apa yang telah terjadi dalam 1 tahun ini. Begitupun secara otomatis kita berpikir dengan rencana kita tahun depan, tentang cita-cita dan harapan-harapan yang ingin kita capai pada tahun 2011 mendatang. 

Terlepas dari pro kontra perayaan “Tahun Baru”, bagi penulis jika pergantian tahun dimaknai dengan proses tersebut (Penggabungan antara “Rafleksi” “Evaluasi” & “Proyeksi”) bukan ritual khas westren yang berbau hedonis dengan segala konsekwensinya, maka tak ubahnya prosesi Tahun Baru itu sama halnya dengan “Haflah Akhirussanah”.

Secara etimologi Haflah Akhirussanah merupakan gabungan dari tiga kata. Pertama, haflah, yang berarti pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta, upacara (A. W. Munawwir, 1997: 280). Kedua, akhir, yang berarti akhir (A. W. Munawwir, 1997: 12). Ketiga, sanah, yang berarti tahun (A. W. Munawwir, 1997: 670). Jadi Haflah Akhirussanah adalah perayaan atau pesta – dengan mengacu pada arti perayaan atau pesta – akhir tahun.

Sebagaimana makna harfiyah diatas, Haflah Akhirussanah lebih condong pada arti perayaan atau pesta, namun perayaan atau pesta di sini tidak seperti perayaan / pesta secara umum (seperti pesta yang sekarang kita kenal).

Dengan kata lain, Haflah Akhirussanah mengandung makna (hikmah) yang lebih bersifat moral dan sosial. Hikmah itu, bisa kita ambil jika kita benar-benar merenungkan kesalahan-kesalahan di tahun lalu dan merencanakan hal-hal baik di tahun mendatang. Dengan demikian akan muncul beberapa dampak positif seperti :

Pertama, sikap wara’. Wara’ di sini bukan cuma sekedar keluar dari perkara subhat tetapi lebih ditekankan - seperti kata Yusup ibn Abid - pengoreksian diri dalam setiap keadaan (Risalah al-Qusyairiyah: 109-111). Sehingga dalam Haflah Akhirussanah koreksi diri sangat diperlukan, artinya apa yang dikerjakan saat ini setimpal atau seimbangkah dengan apa yang dikerjakan dalam satu tahun, baik bersifat transendental maupun sosial.

Dalam moment Haflah Akhirussanah, benar-benar dituntut untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan dan merenungkan terhadap tingkah laku, baik yang telah dikerjakan (Pra Haflah Akhirussanah). Bukan sekedar hiburan dan pentas seni saja, dan tradisi ini sudah sangat subur hidup dipesantren. Tradisi yang sudah tumbuh subur bahkan sejak sebelum bangsa Indonesia terbentuk.

Namun menjadi “Dusta” kemudian, ketika pada tahun baru kita mengucapkan janji, menebarkan mimpi-mimpi/ harapan dan cita-cita dengan tingkatan realisasi yang “Nol”. Bermimpi, bercita-cita itu penting (baca ini) sebagai penyemangat serta arahan hidup kita. Namun konsentrasi untuk mewujudkan cita-cita dalam berbagai tindakan juga tidak kalah penting dibanding berkonsentrasi dalam berencana dan bermimpi. Terlalu sering kita berkonsentrasi untuk ingin ini dan itu, tapi hanya terhenti disitu tidak dilanjutkan dengan berkonsentrasi dalam mewujudkan ini itu.

Sehingga sering terjadi (misal) mimpi-mimpi yang kita angankan ditahun 2008 dengan “PD-nya” kemudian kita ulang lagi pada tahun 2009, lantas kemudian karena tidak ada usaha sungguh-sungguh untuk mengejar mimpi kita ulangi lagi harapan-harapan itu pada tahun baru 2010, kemudian apakah menjelang tahun 2011 ini akan diulangi lagi…? 

Bukan berati hal itu tidak sah, ketika impian itu belum tercapai bagi sayah sah-sah saja anda mengulanginya lagi. Tapi sadarkah anda betapa tertinggalnya anda dari citra diri yang anda idelakan sendiri, banyangkan saja citra yang seharusnya sudah terbangun pada tahun 2008, kemudian belum terwujud sampai menjelang tahun 2011 karena citra itu hanya berada ditataran konsep saja “Tanpa ada usaha untuk merealisasikannya”. Bayangkan seandainya ditahun 2008 citra itu berhasil andawujudkan, saat ini pasti anda sudah mengharapkan citra lain yang jauh lebih tinggi bukan..??

Berencana dan bercita-cita boleh saja, asalkan kita tidak lupa pada tataran realisasinya, bukan sekedar ditataran wacana ataupun bermimpi. Terkadang kita juga begitu menginginkannya cita-cita kita terwujud, hingga lupa berproses. Lupa bahwa beberapa hal tertentu, bahkan banyak hal yang ternyata butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. 

Kita terobsesi untuk menjadikan impian segera nyata, ingin instant, akhirnya menjadi seseorang yang tidak ‘menapak’, tidak realistis, tidak matang. Berproses adalah hal yang alami dalam kehidupan dan dapat membuat diri kita matang. Proses harus dijalani dengan penuh alias kesadaran, tentang mengapa, apa, bagaimana, dimana, kemana, kapan dan siapa yang sedang berproses disini. Karena diakuiatau tidak kita ini terlalu sering tidak sadar, bahkan terhadap apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita lakukan.

Dalam perjalanan berprosespun kita harus senantiasa mengevaluasi dengan menempatkan diri dilingkar luar proses tersebut, supaya kita bisa melihat proses tersebut dalam sebuah perspektif dari luar ke dalam. Kalau kita tenggelam dalam lingkar dalam proses itu saja, kita bisa saja jadi kehilangan perspektif dan kehilangan objektifitas kenapa dan untuk apa kita berproses. 

Sama halnya seperti kita aktif diorganisais, pada mulanya kita berniat menjadikan organisasi itu menjadi alat untuk menempa diri, untuk belajar dll. Namun seiring dengan perjalanan waktu sering kita terlena dalam organisasi tersebut bahkan sampai menjadikan organisasi sebagai tujuan dengan mengesampingkan tujuan awal kita dan tujuan luhur “Asli” dari organisasi tersebut. 

Sering kita terbuai dengan indahnya ritual-ritual dalam organisai, jika tidak pernah mengevaluasi perjalanan dan tujuan kita tidak akan sadar bahwa terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Berhenti dan mengevaluasi proses dalam berkehidupan, sama pentingnya dengan mensyukuri tiap langkah proses yang sudah di lewati dan menikmati setiap prosesnya.

Terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Jika kita sadar akan hal tersebut, tentu itu menjadi tidak terlalu bermasalah. Terkadang membiarkan diri ‘kehilangan arah’ itu baik, jika memang ‘kehilangan arah’ tersebut dilewati dengan penuh kesadaran. 

Namun jika terlampau asik berproses dan sama sekali tidak menjalaninya dalam level kesadaran hingga lupa tentang kenapa dan apa objektifitas kita dalam berproses serta kemana arah proses kita ini, bisa-bisa proses yang kita alami dalam mencapai cita-citapun tidak efektif, bahkan bisa saja proses yang kita jalani menimbulkan kerusakan yang merugikan diri kita.

Wallahua’lam………..

Jumat, 17 Desember 2010

Imagination - Kekuatan Dari Mimpi


Semakin moderen peradaban umat manusia, semakin banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia & akan semakin banyak juga orang cerdas yang ada didunia.

Namun itu semua tidak dapat dijadikan sebagai indikator banyaknya orang besar yang akan naik kepanggung dunia. Fakta ini sangat bertentangan dengan apa yang diperdiksikan oleh para pendahulu kita.

Pada zaman dahulu, para leluhur kita boleh saja mengimani secara total bahwa jika anak mereka pandai atau cerdas berpendidikan “Pasti” kelak ia akan menjadi orang besar.

Mungkin saja saat itu mereka mengatakan hal tersebut dengan menyebutkan berbagai contoh sejarah. Tapi, sadarkah anda bahwa anda dilahirkan untuk zaman yang berbeda / benar-benar lain dengan zaman para leluhur kita. Zaman yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh para orang tua kita.

Nyatanya, saat ini banyak orang pandai… Kepandaian dan pendidikan yang tinggi sudah tidak lagi dimonopoli oleh kaum ningrat, “Walaupun tidak bisa disangkal untuk konteks Indonesia masih terlalu banyak anak bangsa yang belum bisa menikmati pendidikan karena faktor ekonomi dll”.

Tapi setidaknya jurang besar antara kaum elit pendidikan dengan kaum dhu’afa yang tidak berpendidikan formal sudah sedikit terkurangi. Hal ini berati sudah banyak juga kalangan menengah kebawah yang melek huruf bahkan berpendidikan formal.

Akan tetapi kenapa angan-angan para orang tua yang menyatakan orang yang besar dan bisa mewarnai dunia adalah orang yang berpendidikan, cerdas & pandai ini belum terbukti. Bahkan masih banyak pengangguran berpendidikan, begitu banyak sarjana-sarjana dari berbagai disiplin keilmuan namun tidak seimbang dengan lompatan-lompatan besar mereka untuk dunia.

Jawabannya adalah karena sebanrnya, ada perbedaan mendasar antara orang-orang cerdas & orang-orang yang dengan ide cemerlangnya ia mampu merubah dunia. Orang-orang seperti Einstein, Napoleon, Mozart, atau Sukarno. Adalah orang-orang mempunyai impian-impian besar, bukan hanya sekedar kecerdasan intelejensia & pendidikan tinggi saja.

Mereka belajar dari orang-orang hebat, yang terhebat dalam sejarah, dan menyerap seluruh pengetahuan-pengetahuan besar mereka. Pengetahuan yang besar itu membuat mereka senang bermimpi. Senang bermimpi besar. Berani bermimpi besar.

Hal-hal yang tidak terbayangkan oleh manusia-manusia lainnya. Dan impian-impian besar mereka yang ajaib datang dari sebuah kekuatan besar, sesuatu yang hanya dimiliki manusia-manusia terunggul di dunia (or mad men..). Sesuatu yang dinamakan,” IMAJINASI”.

Imajinasi secara umum, adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi. Percaya atau tidak, berikut sebagai sample saya sampaikan beberapa rahasia & petuah dari “sebagian” orang-orang besar dalam sejarah;

EINSTEIN, siapa yang tidak mengenalnya? Secara jelas ia pernah mengatakan; “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution”. (1879-1955)

Imajinasi lebih penting dari Pengetahuan. Karena pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia, mendorong perubahan, dan melahirkan kemajuan manusia. (Sekarang anda sudah tahu kenapa Einstein jadi genius).

NAPOLEON, Salahsatu jenderal terbesar sepanjang sejarah, penguasa Perancis di umur 30 tahun juga pernah menyatakan; "Imagination rules the world"

SUKARNO, Persiden RI pertama pada pidatonya, 29 Juli 1956 secara panjang lebar bahkan menyatakan :

"(Bangsa) Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi fantasi besar: mempunjai keberanian, mempunjai kesediaan menghadapi risiko, mempunjai dinamika.

George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah !!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. "Pennj-wise " tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara!".

Mungkin anda masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin imajinasi bisa mewarnai dunia..? Atau bagaimana mungkin imajinasi mampu membawa kita pada kesuksesan..?? bukankah imajinasi itu sesuatu yang tidak real..?

…..Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya…..

Nidji (OST Laskar Pelangi)

Sekarang, pernahkah anda berfikir apa jadinya jika orang-orang besar yang kita kenal dalam sejarah dahulu tidak pernah memiliki imajinasi yang besar..? Bagaimana nasibnya bangsa indonesia ini jika dahulu sukarno dkk tidak pernah berhasrat merebut kemerdekaan..?? Bagaimana nasib kita jika dahulu Edision tidak berimajinasi tentang kehidupan malam yang terang..?? Mereka semua manusia sama seperti kita, mereka semua punya pilihan untuk bermimpi atau tidak, untuk menjadi orang besar dengan karya besar atau menjadi orang yang biasa-biasa saja dalam hidupnya…??

Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan. Manusia yang hidup tanpa imajinasi adalah manusia yang mati sebelum bertemu malaikat maut, manusia yang hanya menambah beban dunia saja…!

Imajinasi itu adalah pikiran, yang melahirkan energi, yang menggerakkan tangan, jari, kaki, mata, dan anggota tubuh Anda lainnya. Bukankah sebagian yang telah kita peroleh saat ini pernah kita pikirkan sebelumnya? Tandanya energi itu mulai bekerja ialah ketika Anda akan menyusun langkah dan rencana untuk mencapai fantasi Anda, kemudian bergeraklah seluruh tubuh ini mengerjakan rencana-rencana itu. Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup Anda.

Jangan pernah takut bermimpi, karena hakekatnya tidak ada yang mustahil didunia ini. Sadari itu, bermimpilah dan kejarlah mimpi-mimpimu jangan pernah takut karena jika ada keinginan pasti ada jalan. Anda manusia, sama Suekarno, Napoleon, Einstein, Edision, dll. Jika sejarah mencatat mereka berhak menyandang “Nama Besar” untuk Dunia, kenapa anda tidak? Anda juga manusia sama dengan orang-orang sukses mereka juga manusia bukan dewa.....!!