Senin, 23 Desember 2013

Ada Lonceng Kematian Di Antara Desember dan 2015

Akhir tahun 2013 ini beberapa perusahaan mengeluarkan laporan akhir tahun, termasuk perusahaan gula. Dari catatan pendapatan mereka, serangan gula rafinasi terbukti mampu menurunkan produksi gula tebu nasional. Jangankan perusahaan milik BUMN yang "kata dia," -anak tiri dalam negri-, sekelas "Gulaku" yang sebelumnya tidak pernah menurunkan harga saja, akhir-akhir ini sampai terpaksa menurunkan harga.

Tapi yang paling tragis sebenarnya nasib para petani tebu, alih-alih mempertahankan komuditas yang harganya rendah, beberapa petani mulai menyulap lahannya menjadi "ladang lain". Jika dibiarkan terus menerus, tentu produk impor itu semakin merajalela. Padahal kalau kita tau "bahaya" gula rafinasi, yakin kita lebih memilih gula tebu yang rada kekuning-kungingan itu dari pada "yang putih-putih".

Namun kenapa regulasi pemerintah seolah tetap mendukung barang impor tersebut? Berkali-kali petani turun kejalan, teriak sampai tenggorokan sakit. Suaranya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri wakil-wakilnya....

Anehnya, media-media yang menjadi "pemimpin" juga sepertinya enggan mengangkat tema-tema tersebut, tentang "Plus Minusnya" rafinasi, tentang cita-cita kemandirian pangan yang diciderai dengan peraturan kontra produktif, serta tentang angan-angan untuk memenangkan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti.

Di Negara ASEAN lain sudah jamak membicarakan strategi memenangkan, di Indonesia, tentang apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 saja masih kurang di sosialisasikan. Padahal, (jika boleh diibaratkan) pemain bola profesional sekelas Ronaldo sekalipun, pasti akan kaget kalau tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, langsung disuruh bermain di sawah, dengan anak-anak yang terbiasa bermain lumpur. 

Kesimpulanku tertuju pada satu sudut, tidak jauh dari seting kapitalis. Sebuah kepentingan pasar, dan Indonesia yang memiliki banyak penduduk akan dijadikan mangsanya.

Gula itu hanya salah satu sampel saja, masih banyak komuditas-komuditas pertanian lainnya yang bernasib serupa. Menderita, menunggu lonceng kematian berbunyi antara Desember dan 2015. 

Jelas, kalau pemerintah tidak turun tangan dan meninjau ulang peraturan-peraturan yang telah dibuatnya, kondisi seperti ini akan terus terjadi. Bahagia sekali beberapa gelintir orang yang menjadi "pemain" diatas, dan lapar sekali perut-perut petani dibawah.

Tapi memang, mereka yang dahulu kita pilih, pandai sekali beretorika. Seperti pahlawan mereka teriak, "Untuk menstabilkan harga mau tidak mau harus Impor, Kedelai impor, Beras impor, Bawang impor, Gula impor, kalau cabe mau naik kita impor lagi," Padahal dibelakang ada kong kalikong dengan para cukong, "sekali teken persenannya berapa? cukup tidak buat modal tahun depan saya maju lagi,"

Sebentar lagi 2014, ujung tahun politik yang hawanya sudah kental sepanjang tahun ini. Apakah para pemimpin yang "hobi impor" lagi yang akan kita pilih? Akankah pemimpin yang berhubungan mesrah dengan para cukong yang kita pilih? Atau haruskah kita memilih untuk tidak memilih??