Satu tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2010 Badan Pusat
Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 8,32 juta orang pengangguran di
Indonesia sampai saat itu (Agustus 2010.red) paling banyak didominasi para
lulusan sarjana dan diploma. Dengan perincian jumlah lulusan sarjana dan
diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%. Sedangkan
jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sampai saat itu tercatat berjumlah
108,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, ternyata sebanyak 54,5 juta (50,38%) merupakan
lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah (Tidak berpendidikan).
Tanggal 17 Desember 2011 nanti UIN Sunan Kalijaga akan mengadakan
Wisuda yang berarti akan melepaskan para ahli-ahlinya (sarjananya.red). Bagi
sebagian orang Wisuda dimaknai sebagai pesta keberhasilan, namun ada juga yang
memandangnya sebagai pintu keluar semata, bahkan lebih miris ada yang memaknai
sebagai pintu penganggura intelektual.
Saya hanya membayangkan, jika perguruan tinggi setingkat UIN Sunan
Kalijaga saja mampu membai'at lebih dari 60 sarjana tiap periodenya (padahal
satu tahun ada tiga periode) bagaimana dengan perguruan tinggi yang lebih besar? Jika kita dipatok rata-rata setiap perguruan membai'at
50 sarjana / diplomat saja dalam tiap acara wisuda kita bisa menyimpulkan bahwa
Indonesia ini, benar-benar dipenuhi manusia berpendidikan bergelar sarjana.
Ah, kembali saya teringat lyrik lagu Bang.Iwan yang berjudul
"Sarjana Muda" katanya:
.........Empat tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya.......
Sepintas saya bisa menghibur diri karena dalam masa perkuliahan saya lebih dari 4th, jadi tidak seharusnya saya tersindir dengan lagu itu dan menurut pengalaman dengan lebih dari 4th itu harusnya saya berani meradang menerjang mereka yang hanya 4th hehehee... Tapi, alih-alih berfikir objektif, mungkin itu hanya rasionalisasi yang ditujukan untuk menghibur diri saja. Pada kenyataannya sarjana pengangguran adalah problematika bangsa kita sejak zaman dahulu (setidaknya menurut Bang.Iwan dalam bincang-bincang bersamanya ketika menyampaikan latar belakang lagu Sarjana Muda).
.........Empat tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya.......
Sepintas saya bisa menghibur diri karena dalam masa perkuliahan saya lebih dari 4th, jadi tidak seharusnya saya tersindir dengan lagu itu dan menurut pengalaman dengan lebih dari 4th itu harusnya saya berani meradang menerjang mereka yang hanya 4th hehehee... Tapi, alih-alih berfikir objektif, mungkin itu hanya rasionalisasi yang ditujukan untuk menghibur diri saja. Pada kenyataannya sarjana pengangguran adalah problematika bangsa kita sejak zaman dahulu (setidaknya menurut Bang.Iwan dalam bincang-bincang bersamanya ketika menyampaikan latar belakang lagu Sarjana Muda).
Kesempatan kerja yang ada tidak sebanding dengan wisudawan yang
dihasilkan kampus setiap tahunnya dituduh sebagai penyebab banyaknya
pengangguran intelektual ini. Jika rata-rata yang saya katakan diatas kita
hitung, maka ada jutaan wisudawan di seluruh Indonesia baik yang dihasilkan PTS
ataupun PTN. Sedangkan lapangan pekerjaan yang ada mungkin tidak sampai 50% mampu
menampung mereka. Terlebih lagi dengan adanya moratorium penghentian penerimaan
PNS karena mayoritas mahasiswa yang kuliah itu ingin menjadi PNS (Padahal Rasyid
Ridha keluar dari sekolah karena tidak mau jika setelah lulus menjadi PNS).
Semangat belajar untuk menjadi PNS menurut saya bukanlah semangat
dasar pendidikan negri ini, karena identitas pembelajaran negri ini itu jelas
tertulis “Untuk mencerdaskan bangsa”. Bukan untuk menciptakan para pegawai,
buruh atau kaum kapitalis – borjuis yang hanya akan menindas mereka yang tidak
belajar (Rakyat.red).
Disinilah akar kemiskinan nilai-nilai pembelajaran kita, orang yang
sekolah diidentikkan sebagai orang yang mencari ijazah saja, dan ijazah itu
difahami sebagai jimat sakti untuk mencari kerja. Pemahaman seperti itu seakan
sudah merasuk kedalam sanubari bangsa ini, mereka lupa akan tujuan dasar
pendidikan itu sendiri. Bukan hanya orang kampung yang berpandangan seperti
itu, lihat saja orang-orang kota yang berdasi bahkan para professor doctor sekalipun,
mereka menyulap universitas-universitas dari asas aslinya “Mencerdaskan Bangsa”
menjadi “Agent yang secara khusus pencetak kaum kapitalis modern” semuanya
dilakukan demi kepentingan pasar.
Saya tidak mengada-ada mengatakan hal itu, lihat saja misal: “UIN
Sunan Kalijaga” tempat saya kuliah, hampir setiap bertemu orang dan ditanya “Kau
kuliah dimana?” kalau saya jawab jujur pasti pertanyaan selanjutnya tidak jauh
dari “Memangnya setelah lulus dari situ bisa kerja dimana?”. Itulah realitas
sosial masyarakat kita, ketika uang sudah dianggap sebagai tujuan utama dan
tanpa uang manusia akan merasa lemah, maka hampir seluruh usaha manusia ditujukan
demi mendapatkan uang. Bahkan nilai-nilai luhur pendidikan untuk mencerdaskan
bangsa juga diganti dengan “Pendidikan hanya untuk mencari kerja”.
Akibat paling fatal dari pemahaman terhadap pendidikan yang salah
kaprah seperti itu adalah beredarnya jual-beli pendidikan, jual-beli gelar dan
jual-beli ijazah. Untuk kata-kata ini saya juga tidak mengada-ada, silahkan
anda search info atau berita tentang “para calon pimpinan daerah yang dicegal
karena kasus Ijazah palsu” atau “Praktik illegal jual-beli ijazah dll”, di
Google saja banyak apalagi yang tidak terekam. Umumnya kerja illegal adalah
kerja bawah tanah, jika yang muncul ke permukaan saja banyak berarti yang
dibawah tanah pasti lebih banyak lagi. Dengan banyaknya praktik illegal itu
maka wajar saja jika kita temui sangat banyak sarjana yang kapasitasnya masih jauh
dari kualitas Insan Akademik atau Intelektual.
Para sarjana sering diidentikkan sebagai kaum intelektual, namun
pada kenyataannya tidak setiap sarjana itu benar-benar seorang intelektual.
Sarjana adalah gelar bagi orang yang menyelesaikan pendidikan di perguruan
tinggi, sedang intelektual adalah seseorang yang cerdas, berfikir dengan
berlandaskan ilmu pengetahuan. Ada perbedaan mendasar disana, namun (sebagaimana
umumnya, bahasa hanyalah kebiasaan) kata sarjana tetap saja identik dengan
intelektual walaupun tidak semua sarjana benar-benar memiliki kualitas “intelektual”.
Problem ini harus segera dijawab pemerintah dan lembaga pendidikan,
jika tidak mau melihat makin banyaknya pengangguran bergelar sarjana. Jangan
sampai moment wisuda menjadi pintu keluar sarjana pengangguran tanpa kesempatan
kerja yang pasti. Jangan sampai juga pendidikan terus diasumsikan sebagai “cara
mencari pekerjaan” saja.
Sampai disini memang ada permasalahan mendasar yang juga tidak
kalah penting, kenyataan bahwa “Tanpa uang, manusia hampir tidak bisa melakukan
apa-apa” meniscayakan usaha untuk mencari uang itu adalah hal yang “Mutlak
dibutuhkan”. Namun menggadaikan pendidikan kepada pasar bukan jalan terbaik
bagi pemecahan masalah ini. Karena seperti yang saya katakana diatas bahwa “Pendidikan
yang diarakhan ke pasar, hanya akan memunculkan para penindas-penindas baru
yang melestarikan ketimpangan sosial”. Pada titik inilah benturan keras antara Idealisme
dimana “sarjan” sebagai kalangan “intelektual” seharusnya mampu mengayomi masyarakat,
memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan dst, dengan Realitas
dimana “sarjan” itu juga manusia biasa bukan dewa sakti mandra guna. Mereka
yang bertahan dengan idealismenya rata-rata hanya hidup biasa saja bahkan
cenderung miskin, sedang mereka yang mengedepankan realitas kemudian ikut fight
dalam kacah dunia kapitalis bisa menjadi kaya raya namun tak jarang mereka
menjadi penindas.
Permasalahan ini sudah lama menjadi “PR” pemerintah dan lembaga
pendidikan. Ada lembaga pendidikan yang tetap idealis dan akibatnya
mahasiswanya sedikit karena tidak sesuai dengan permintaan pasar yang sudah
mengakar keurat rakyat. Sebut saja misal Fakultas Ushuluddin di UIN
Sunan Kalijaga, apalagi Jurusan Filsafat dan Sosiologi Agama yang
dari dahulu jumlahnya tidak pernah mampu menyaingi Jurusan-jurusan di Fakultas
Saintek. Sedangkan lembaga yang menggadaikan idealism pendidikan dengan
pasarnya bisa anda lihat sendiri (biasanya mereka tidak suka disebut begitu,
namun kenyataannya memang begitu). Sebagai pisau analisis anda bisa melihat
pada brosur atau iklannya, mayoritas lembaga yang sudah berafiliasi atau bahkan
pesanan pasar akan dengan sangat bangganya memamerkan bahwa “Lulusan dari sini
akan kerja di sini” atau “para alumni kami bekerja di ….. dst” atau juga
“kami telah bekerjasama dengan beberapa instasi dan mereka mempercayakan tenaga
ahli dari lulusan kami dst”. Silahkan cari sendiri, banyak ko’ & bagi saya
itu bukti bahwa identitas pendidikan untuk mencerdaskan bangsa telah beralih menjadi
pendidikan untuk mencari kerja. Agent of Control telah beralih halauan menjadi
Agent of Kapitalis.
Jalan keluar untuk menengahi kedua permasalahan mendasar itu
sebenarnya sering diusahakan. Misal di
UIN Sunan Kalijaga dibawah pimpinan Musa As’ari akhir-akhir ini seolah “meneriakkan”
agar mahasiswa menjadi interpreneur. Interpreneur dianggap sebagai jalan keluar
bagi mahasiswa dan calon sarjana. Karena dengan jiwa ini (wirausaha.red)
mahasiswa tidak akan lagi tergantung pada intansi atau lowongan pekerjaan,
namun dia diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat
membantu mengentas angka pengangguran.
Glombang interpreneur terjadi beguiling-guling di UIN Sunan
Kalijaga baik yang interpreneur murni sampai interpreneur karbitan. Akan
tetapi konsep ini juga bukan berarti sempurna dan berjalan tanpa kritik. Banyak
yang beranggapan bahwa konsep interpreneur ini seolah mengarahkan mahasiswa
untuk menjadi “pekerja saja dan mengurangi nuansa akademisnya”. Akan tetapi menurut
saya, ada sebuah niat baik yang itu perlu diberi apresiasi yaitu menjadikan
mahasiswa sebagai manusia yang mandiri dan menjunjung tinggi kesejahteraan
rakyat dengan berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Namun tetap butuh control
(seperti kritik untuk membangun) agar niat baik menjadikan mahasiswa sebagai pemula,
pencetus dan pelopor yang menciptkan lapangan kerja bisa berjalan tanpa
meninggalkan fitrahnya sebagai Insan Akademik / Intelektual Sejati.
Sampai sini juga masih ada permasalahan yaitu mengenai “persepsi
umum”. Masyarakat kita sudah terlanjur beranggapan bahwa “sarjana sepantasnya
bekerja di kantor, bukan menyurung grobag dll”. Image itu sudah terlalu kuat, bisa
kita bayangkan jika orang tua kita yang tidak tau bentuk persaingan dan peluang
antara kerja di instansi dan bekerja mandiri melihat anaknya bekerja sebagai
seorang wirausaha masih pemula pula, miris, anggapan “percumah sekolah
tinggi-tinggi jika akhirnya hanya begitu” akan muncul bak hujan badai.
Dari anggapan seperti ini jua banyak sarjana yang ikut terbawa arus
dan gengsi untuk terjun kedunia usaha mandiri dari bawah. Mereka yang tidak
tahan itu terus beranggan bahwa sarjana yang sukses harus duduk dipemerintahan,
perusahaan dan kedudukan lainnya. Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang,
hampir setiap ada lowongan / CPNS sarjana berjubel seolah tanpa
mempertimbangkan peluang.
Merubah image bukan hal yang mudah, namun tetap bukan hal yang
mustahil. Jika pemerintah dan media mampu bekerjasama dengan baik dalam hal ini
Insya Allah image tersebut akan berubah. Sudah terlalu banyak sarjana yang
bukan Intelektual, sudah terlalu banyak sarjana yang menjadi sampah masyarakat,
sudah terlalu banyak sarjana kolot yang hanya mau berkerja dengan dasi.
Wallahu’alam…………