Senin, 23 Desember 2013

Ada Lonceng Kematian Di Antara Desember dan 2015

Akhir tahun 2013 ini beberapa perusahaan mengeluarkan laporan akhir tahun, termasuk perusahaan gula. Dari catatan pendapatan mereka, serangan gula rafinasi terbukti mampu menurunkan produksi gula tebu nasional. Jangankan perusahaan milik BUMN yang "kata dia," -anak tiri dalam negri-, sekelas "Gulaku" yang sebelumnya tidak pernah menurunkan harga saja, akhir-akhir ini sampai terpaksa menurunkan harga.

Tapi yang paling tragis sebenarnya nasib para petani tebu, alih-alih mempertahankan komuditas yang harganya rendah, beberapa petani mulai menyulap lahannya menjadi "ladang lain". Jika dibiarkan terus menerus, tentu produk impor itu semakin merajalela. Padahal kalau kita tau "bahaya" gula rafinasi, yakin kita lebih memilih gula tebu yang rada kekuning-kungingan itu dari pada "yang putih-putih".

Namun kenapa regulasi pemerintah seolah tetap mendukung barang impor tersebut? Berkali-kali petani turun kejalan, teriak sampai tenggorokan sakit. Suaranya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri wakil-wakilnya....

Anehnya, media-media yang menjadi "pemimpin" juga sepertinya enggan mengangkat tema-tema tersebut, tentang "Plus Minusnya" rafinasi, tentang cita-cita kemandirian pangan yang diciderai dengan peraturan kontra produktif, serta tentang angan-angan untuk memenangkan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti.

Di Negara ASEAN lain sudah jamak membicarakan strategi memenangkan, di Indonesia, tentang apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 saja masih kurang di sosialisasikan. Padahal, (jika boleh diibaratkan) pemain bola profesional sekelas Ronaldo sekalipun, pasti akan kaget kalau tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, langsung disuruh bermain di sawah, dengan anak-anak yang terbiasa bermain lumpur. 

Kesimpulanku tertuju pada satu sudut, tidak jauh dari seting kapitalis. Sebuah kepentingan pasar, dan Indonesia yang memiliki banyak penduduk akan dijadikan mangsanya.

Gula itu hanya salah satu sampel saja, masih banyak komuditas-komuditas pertanian lainnya yang bernasib serupa. Menderita, menunggu lonceng kematian berbunyi antara Desember dan 2015. 

Jelas, kalau pemerintah tidak turun tangan dan meninjau ulang peraturan-peraturan yang telah dibuatnya, kondisi seperti ini akan terus terjadi. Bahagia sekali beberapa gelintir orang yang menjadi "pemain" diatas, dan lapar sekali perut-perut petani dibawah.

Tapi memang, mereka yang dahulu kita pilih, pandai sekali beretorika. Seperti pahlawan mereka teriak, "Untuk menstabilkan harga mau tidak mau harus Impor, Kedelai impor, Beras impor, Bawang impor, Gula impor, kalau cabe mau naik kita impor lagi," Padahal dibelakang ada kong kalikong dengan para cukong, "sekali teken persenannya berapa? cukup tidak buat modal tahun depan saya maju lagi,"

Sebentar lagi 2014, ujung tahun politik yang hawanya sudah kental sepanjang tahun ini. Apakah para pemimpin yang "hobi impor" lagi yang akan kita pilih? Akankah pemimpin yang berhubungan mesrah dengan para cukong yang kita pilih? Atau haruskah kita memilih untuk tidak memilih??

Kamis, 10 Januari 2013

Jakarta dan Banjir



Jakarta, 10 Januari 2013. Berbeda dengan kemarin, hujan pada pagi hari ini tidak sampai membuat pelataran depan kontrakan di Manggarai tergenang banjir. Sebenarnya sudah lama saya tau tentang banjir di Jakarta, sebagai “Ibu Kota Negara” hampir setiap sesuatu yang terjadi di sini pasti menyebar keseluruh pelosok Negri (sesuatu yang sangat berbeda dengan daerah saya, sebuah daerah tertutup “apa yang terjadi di sana ya hanya orang sana yang tau”).
Sepintas pengamatan, menurut saya banjir yang selalu terjadi di Jakarta bukan akibat dari banyaknya curah hujan. Banjir yang sudah seperti kutukan ini terjadi “akibat dari pembangunan yang tidak mempertimbangkan dampak ekologis baik terhadap tumbuhan maupun kemampuan tanah dalam meresap air”. Hampir semua lahan di Jakarta ditutup oleh semen, aspal atau bangunan & sangat sedikit tanah yang terbuka. Sedikitnya tanah yang terbuka itu masih diperparah dengan kepadatan tanah yang tidak subur sehingga susah menyerap air. Sehingga wajar meskipun curah hujan tidak terlalu besar, berita banjir di Jakarta tetap biasa terdengar.
Banyak upaya yang telah diusahakan oleh pemerintah untuk mengurangi banjir, mulai dari membuat gorong-gorong sampai (rencananya) akan membuat Trowongan Serbaguna atau “Deep Tunel”. Semua usaha itu memang pantas dicoba sebagai sebuah ikhtiar bagi kebaikan bersama. Namun kita juga pantas mempertanyakan efektivitas dari proyek-proyek tersebut, “Benarkah hal tersebut mampu menangkal kutukan banjir di Jakarta ini? Berapa lama pengerjaannya? Berapa besar dampak ekonomi, politik & sosialnya? Serta berapa lama hal tersebut mampu menangani banjir di Jakarta?”
Secara sederhana, kutukan banjir ini bisa ditangkal andai Jakarta mampu berbenah diri dengan menyediakan lebih banyak lagi tempat-tempat kosong di titik-titik rawan banjir dan diganti dengan penghijauan yang mampu menyerap air. Namun harga yang harus dibayar dengan dampak ekonomi, politik dan sosial tentu tidak kecil mengingat setiap tempat di Jakarta memiliki nilai ekonomi yang tinggi & masyarakat yang hetrogen.
Mungkin atas pertimbangan ini “Deep Tunel” menjadi alternatif pilihan meski dana yang dikeluarkan tidak sedikit. Wacana “Mega Proyek” ini langsung mendapat sorotan dari berbagai golongan, banyak yang mengharapkan pelaksanaan proyek ini & banyak juga yang mempertanyakan atau sekedar mengkhawatirkan pelaksanaannya. Berkaca pada kasus mega proyek hambalang, jika proyek ini berjalan, dengan banyaknya dana dari proyek ini bukan tidak mungkin akan mengundang koruptor yang menghalangi realisasinya. Jika mega proyek ini gagal & banjir tetap terjadi maka nama Jokowi sebagai Gubernur Penuh Harapan akan tercoreng dengan sendirinya.
Sebagai gubernur yang merakyat, sebenarnya Jokowi masih punya alternatif lain untuk mengurangi banjir, yaitu dengan mengembalikan kemampuan tanah dalam meresap air. Sudah sejak lama para petani di Indonesia faham bahwa tanah yang subur dengan pupuk kompos akan lebih mudah menyerap dan menyimpan air dari pada tanah yang tandus.
Caranya: daun, ranting atau kompos lainnya yang kering dikubur dalam tanah berkedalaman 1M, dengan begitu sampah organik akan membusuk dan tanah menjadi subur sehingga mudah menyerap dan menyimpan air.
Dengan mengajak masyarakat dan pemkot secara bersama-sama menyuburkan tanah begitu, bukan tidak mungkin banjir di Jakarta bisa dikurangi & Jakarta pun memiliki kesempatan menjadi lebih asri. Selanjutnya tinggal memudahkan jalur air dari hulu ke hilir dengan normalisasi sungai yang relatif lebih murah dan mudah dari pada pembuatan dan perawatan “Deep Tunel”.

Selasa, 22 November 2011

SARJANA, dalam Kenyataan dan Image Masyarakat. (Sebuah refleksi)


Satu tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai saat itu (Agustus 2010.red) paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Dengan perincian jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sampai saat itu tercatat berjumlah 108,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, ternyata sebanyak 54,5 juta (50,38%) merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah (Tidak berpendidikan).

Tanggal 17 Desember 2011 nanti UIN Sunan Kalijaga akan mengadakan Wisuda yang berarti akan melepaskan para ahli-ahlinya (sarjananya.red). Bagi sebagian orang Wisuda dimaknai sebagai pesta keberhasilan, namun ada juga yang memandangnya sebagai pintu keluar semata, bahkan lebih miris ada yang memaknai sebagai pintu penganggura intelektual.

Saya hanya membayangkan, jika perguruan tinggi setingkat UIN Sunan Kalijaga saja mampu membai'at lebih dari 60 sarjana tiap periodenya (padahal satu tahun ada tiga periode) bagaimana dengan perguruan tinggi yang lebih besar? Jika kita dipatok rata-rata setiap perguruan membai'at 50 sarjana / diplomat saja dalam tiap acara wisuda kita bisa menyimpulkan bahwa Indonesia ini, benar-benar dipenuhi manusia berpendidikan bergelar sarjana.

Ah, kembali saya teringat lyrik lagu Bang.Iwan yang berjudul "Sarjana Muda" katanya:
.........Empat tahun lamanya bergelut dengan buku sia-sia semuanya....... 
Sepintas saya bisa menghibur diri karena dalam masa perkuliahan saya lebih dari 4th, jadi tidak seharusnya saya tersindir dengan lagu itu dan menurut pengalaman dengan lebih dari 4th itu harusnya saya berani meradang menerjang mereka yang hanya 4th hehehee... Tapi, alih-alih berfikir objektif, mungkin itu hanya rasionalisasi yang ditujukan untuk menghibur diri saja. Pada kenyataannya sarjana pengangguran adalah problematika bangsa kita sejak zaman dahulu (setidaknya menurut Bang.Iwan dalam bincang-bincang bersamanya ketika menyampaikan latar belakang lagu Sarjana Muda).

Kesempatan kerja yang ada tidak sebanding dengan wisudawan yang dihasilkan kampus setiap tahunnya dituduh sebagai penyebab banyaknya pengangguran intelektual ini. Jika rata-rata yang saya katakan diatas kita hitung, maka ada jutaan wisudawan di seluruh Indonesia baik yang dihasilkan PTS ataupun PTN. Sedangkan lapangan pekerjaan yang ada mungkin tidak sampai 50% mampu menampung mereka. Terlebih lagi dengan adanya moratorium penghentian penerimaan PNS karena mayoritas mahasiswa yang kuliah itu ingin menjadi PNS (Padahal Rasyid Ridha keluar dari sekolah karena tidak mau jika setelah lulus menjadi PNS).

Semangat belajar untuk menjadi PNS menurut saya bukanlah semangat dasar pendidikan negri ini, karena identitas pembelajaran negri ini itu jelas tertulis “Untuk mencerdaskan bangsa”. Bukan untuk menciptakan para pegawai, buruh atau kaum kapitalis – borjuis yang hanya akan menindas mereka yang tidak belajar (Rakyat.red).

Disinilah akar kemiskinan nilai-nilai pembelajaran kita, orang yang sekolah diidentikkan sebagai orang yang mencari ijazah saja, dan ijazah itu difahami sebagai jimat sakti untuk mencari kerja. Pemahaman seperti itu seakan sudah merasuk kedalam sanubari bangsa ini, mereka lupa akan tujuan dasar pendidikan itu sendiri. Bukan hanya orang kampung yang berpandangan seperti itu, lihat saja orang-orang kota yang berdasi bahkan para professor doctor sekalipun, mereka menyulap universitas-universitas dari asas aslinya “Mencerdaskan Bangsa” menjadi “Agent yang secara khusus pencetak kaum kapitalis modern” semuanya dilakukan demi kepentingan pasar.

Saya tidak mengada-ada mengatakan hal itu, lihat saja misal: “UIN Sunan Kalijaga” tempat saya kuliah, hampir setiap bertemu orang dan ditanya “Kau kuliah dimana?” kalau saya jawab jujur pasti pertanyaan selanjutnya tidak jauh dari “Memangnya setelah lulus dari situ bisa kerja dimana?”. Itulah realitas sosial masyarakat kita, ketika uang sudah dianggap sebagai tujuan utama dan tanpa uang manusia akan merasa lemah, maka hampir seluruh usaha manusia ditujukan demi mendapatkan uang. Bahkan nilai-nilai luhur pendidikan untuk mencerdaskan bangsa juga diganti dengan “Pendidikan hanya untuk mencari kerja”.

Akibat paling fatal dari pemahaman terhadap pendidikan yang salah kaprah seperti itu adalah beredarnya jual-beli pendidikan, jual-beli gelar dan jual-beli ijazah. Untuk kata-kata ini saya juga tidak mengada-ada, silahkan anda search info atau berita tentang “para calon pimpinan daerah yang dicegal karena kasus Ijazah palsu” atau “Praktik illegal jual-beli ijazah dll”, di Google saja banyak apalagi yang tidak terekam. Umumnya kerja illegal adalah kerja bawah tanah, jika yang muncul ke permukaan saja banyak berarti yang dibawah tanah pasti lebih banyak lagi. Dengan banyaknya praktik illegal itu maka wajar saja jika kita temui sangat banyak sarjana yang kapasitasnya masih jauh dari kualitas Insan Akademik atau Intelektual.

Para sarjana sering diidentikkan sebagai kaum intelektual, namun pada kenyataannya tidak setiap sarjana itu benar-benar seorang intelektual. Sarjana adalah gelar bagi orang yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, sedang intelektual adalah seseorang yang cerdas, berfikir dengan berlandaskan ilmu pengetahuan. Ada perbedaan mendasar disana, namun (sebagaimana umumnya, bahasa hanyalah kebiasaan) kata sarjana tetap saja identik dengan intelektual walaupun tidak semua sarjana benar-benar memiliki kualitas “intelektual”.

Problem ini harus segera dijawab pemerintah dan lembaga pendidikan, jika tidak mau melihat makin banyaknya pengangguran bergelar sarjana. Jangan sampai moment wisuda menjadi pintu keluar sarjana pengangguran tanpa kesempatan kerja yang pasti. Jangan sampai juga pendidikan terus diasumsikan sebagai “cara mencari pekerjaan” saja.

Sampai disini memang ada permasalahan mendasar yang juga tidak kalah penting, kenyataan bahwa “Tanpa uang, manusia hampir tidak bisa melakukan apa-apa” meniscayakan usaha untuk mencari uang itu adalah hal yang “Mutlak dibutuhkan”. Namun menggadaikan pendidikan kepada pasar bukan jalan terbaik bagi pemecahan masalah ini. Karena seperti yang saya katakana diatas bahwa “Pendidikan yang diarakhan ke pasar, hanya akan memunculkan para penindas-penindas baru yang melestarikan ketimpangan sosial”. Pada titik inilah benturan keras antara Idealisme dimana “sarjan” sebagai kalangan “intelektual” seharusnya mampu mengayomi masyarakat, memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan dst, dengan Realitas dimana “sarjan” itu juga manusia biasa bukan dewa sakti mandra guna. Mereka yang bertahan dengan idealismenya rata-rata hanya hidup biasa saja bahkan cenderung miskin, sedang mereka yang mengedepankan realitas kemudian ikut fight dalam kacah dunia kapitalis bisa menjadi kaya raya namun tak jarang mereka menjadi penindas.

Permasalahan ini sudah lama menjadi “PR” pemerintah dan lembaga pendidikan. Ada lembaga pendidikan yang tetap idealis dan akibatnya mahasiswanya sedikit karena tidak sesuai dengan permintaan pasar yang sudah mengakar keurat rakyat. Sebut saja misal Fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga, apalagi Jurusan Filsafat dan Sosiologi Agama yang dari dahulu jumlahnya tidak pernah mampu menyaingi Jurusan-jurusan di Fakultas Saintek. Sedangkan lembaga yang menggadaikan idealism pendidikan dengan pasarnya bisa anda lihat sendiri (biasanya mereka tidak suka disebut begitu, namun kenyataannya memang begitu). Sebagai pisau analisis anda bisa melihat pada brosur atau iklannya, mayoritas lembaga yang sudah berafiliasi atau bahkan pesanan pasar akan dengan sangat bangganya memamerkan bahwa “Lulusan dari sini akan kerja di sini” atau “para alumni kami bekerja di ….. dst” atau juga “kami telah bekerjasama dengan beberapa instasi dan mereka mempercayakan tenaga ahli dari lulusan kami dst”. Silahkan cari sendiri, banyak ko’ & bagi saya itu bukti bahwa identitas pendidikan untuk mencerdaskan bangsa telah beralih menjadi pendidikan untuk mencari kerja. Agent of Control telah beralih halauan menjadi Agent of Kapitalis.

Jalan keluar untuk menengahi kedua permasalahan mendasar itu sebenarnya  sering diusahakan. Misal di UIN Sunan Kalijaga dibawah pimpinan Musa As’ari akhir-akhir ini seolah “meneriakkan” agar mahasiswa menjadi interpreneur. Interpreneur dianggap sebagai jalan keluar bagi mahasiswa dan calon sarjana. Karena dengan jiwa ini (wirausaha.red) mahasiswa tidak akan lagi tergantung pada intansi atau lowongan pekerjaan, namun dia diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat membantu mengentas angka pengangguran.

Glombang interpreneur terjadi beguiling-guling di UIN Sunan Kalijaga baik yang interpreneur murni sampai interpreneur karbitan. Akan tetapi konsep ini juga bukan berarti sempurna dan berjalan tanpa kritik. Banyak yang beranggapan bahwa konsep interpreneur ini seolah mengarahkan mahasiswa untuk menjadi “pekerja saja dan mengurangi nuansa akademisnya”. Akan tetapi menurut saya, ada sebuah niat baik yang itu perlu diberi apresiasi yaitu menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang mandiri dan menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat dengan berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Namun tetap butuh control (seperti kritik untuk membangun) agar niat baik menjadikan mahasiswa sebagai pemula, pencetus dan pelopor yang menciptkan lapangan kerja bisa berjalan tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai Insan Akademik / Intelektual Sejati.

Sampai sini juga masih ada permasalahan yaitu mengenai “persepsi umum”. Masyarakat kita sudah terlanjur beranggapan bahwa “sarjana sepantasnya bekerja di kantor, bukan menyurung grobag dll”. Image itu sudah terlalu kuat, bisa kita bayangkan jika orang tua kita yang tidak tau bentuk persaingan dan peluang antara kerja di instansi dan bekerja mandiri melihat anaknya bekerja sebagai seorang wirausaha masih pemula pula, miris, anggapan “percumah sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hanya begitu” akan muncul bak hujan badai.

Dari anggapan seperti ini jua banyak sarjana yang ikut terbawa arus dan gengsi untuk terjun kedunia usaha mandiri dari bawah. Mereka yang tidak tahan itu terus beranggan bahwa sarjana yang sukses harus duduk dipemerintahan, perusahaan dan kedudukan lainnya. Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang, hampir setiap ada lowongan / CPNS sarjana berjubel seolah tanpa mempertimbangkan peluang.

Merubah image bukan hal yang mudah, namun tetap bukan hal yang mustahil. Jika pemerintah dan media mampu bekerjasama dengan baik dalam hal ini Insya Allah image tersebut akan berubah. Sudah terlalu banyak sarjana yang bukan Intelektual, sudah terlalu banyak sarjana yang menjadi sampah masyarakat, sudah terlalu banyak sarjana kolot yang hanya mau berkerja dengan dasi.

Wallahu’alam…………


Sabtu, 19 November 2011

Menjadi Manusia Indonesia yang Normal

Judul itu berangkat dari pengalaman saya kurang lebih empat bulan lalu ketika pertama kali menempati kos ini (Rumah Pak.Endro, Janti 01/03). Seperti halnya umumnya anak kos yang baru menempati lingkungannya, saya berusaha membuka obrolan bersama teman-teman kos ini. Sekedar untuk mengkarabkan suasana, ngobrol tanpa tujuan pun mengalir begitu saja. Sekali dua kali ngobrol sayapun mulai mengenal mereka satu per satu. Mulai dari nama, asal daerah, kehidupan di daerahnya sampai tempat & jurusannya selama kuliah di Jogja. Ada yang menarik disini, meskipun sebenarnya dari enam tempat kos selama enam tahun saya tinggal di Jogja selalu ada nuansa baru yang khas antara satu kos dengan kos yang lainnya. Namun khusus untuk kos yang terakhir ini ada perbedaan yang jauh dari tradisi kos-kos sebelumnya. Disini hampir tidak pernah ada obrolan tentang Politik, ke Indonesiaan, Pergerakan ke Mahasiswaan, ke Masyarakatan ataupun ke Islaman.

Pernah suatu ketika saya mencoba mengarahkan pembicaraan pada ranah yang jarang tersentuh mereka itu. Namun setiap kali saya mencobanya setiap kali itu juga obrolan menjadi terhenti atau minimal tidak nyambung. Sampai akhirnya saya memahami fenomena ini, "bahwa setiap pola pikir manusia pasti terbentuk dari pengetahuan dan pengalamannya". Ya, karena seting sosial historis yang membentuk mereka tidak sama dengan seting historis yang membentuk saya dan teman-teman kos yang dulu akibatnya cara berfikir dan kecenderungannya juga berbeda. Akan sangat tidak bijak jika saya memaksakan apa yang menjadi keinginan pribadi kepada mereka. Yang paling bijak adalah mengajarinya secara perlahan dengan mengarahkan atau mengikutinya untuk memahami alur berfikir mereka baru setelah itu up to u...

Dari kedua opsi tersebut saya memilih opsi yang kedua. Meskipun tidak larut namun saya terus berusaha mengikuti untuk memahami alur berfikir mereka. Tidak pernah lagi saya memaksakan tema obrolan dengan menjadi "penyusup" dalam obrolan-obrolan hangat mereka. Sampai suatu hari selepas acara perkenalan IKAPMAWI Nasional saya bertemu dengan salah satu senior. Hal yang menarik untuk direnungi dari perkataannya itu: "Boleh lah kita idealis, berbicara tentang ideologi-ideologi dunia, tentang isu-isu ke Masyarakatan, ke Indonesiaan dll. Namun sesekali turunlah langsung ke masyarakatmu dan kamu akan tau ternyata tehnik menanam mangga jauh lebih mereka butuhkan dari pada pemahaman tentang ekonomi politik."

Dari situ saya mencoba memahami keterkaitan pernyataannya dengan jenis mahasiswa yang ada dikos baru ini. Mungkin saat ini adalah saat-saat peralihan dimana dunia ide sudah tidak lagi menarik bagi para pemuda bahkan yang menyandang gelar mahasiswa sekalipun. Bagaimana jika turun ke Masyarakat? Prediksiku juga tidak jauh berbeda, coba saja ngobrol dengan orang desa tentang kritik ekonomi politik Karl Mark, atau tentang teori politik & filsafatnya Plato dll. Saya brani jamin pasti mereka ngeblank...

Boleh kita idealis dengan faham-faham yang kita amini, namun kita juga harus sadar realitas. dan untuk memahami realitas sosial tersebut yang terbaik adalah kita turun langsung, ikut merasakan, ikut mengerti hingga akhirnya memahami. Memahami mayoritas orang Indonesia adalah petani dan mayoritas mereka miskin, memahami bahwa Indonesia adalah negara agraris yang subur dan makmur. Melupakan teknik mengolah tanah, 100% meninggalkan dunia pertanian dan peternakan tanpa kepedulian sedikitpun sama saja melupakan karunia terindah dari langit.
 

(Foto: Desa Munggang, 90% wilayahnya berupa sawah)
Indonesia adalah Negri Agraris,
Jangan Lupakan Itu...!!

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menyatakan bahwa manusia Indonesia yang normal adalah manusia yang memahami dan menyadari akan kelebihan bangsanya yang agraris serta berusaha memajukannya. Bukan manusia yang hanya berputar-putar dalam masalah ekonomi dan politik saja. Menjadi manusia Indonesia yang normal adalah menjadi manusia yang sesekali berbicara ranah praktis tentang pertaniannya atau peternakannya. Karena dengan begitu kita bisa menyatu dengan rakyat, tidak dijauhi karena tidak difahami dll. Manusia Indonesia yang tidak normal adalah manusia yang tidak menyadari kelebihan bangsanya atau bahkan cenderung meremehkan pertanian dan peternakan.

Jumat, 11 Februari 2011

Cara Membuat Blog Gratis

Ingin menjadi Blogger? Tapi tidak tahu cara membuat Blog? Kira-kira itulah yang dulu sempat saya alami ketika ingin memulai mempublikasikan tulisan di jagat internet ini. Well, jika Anda memiliki masalah serupa, berikut saya paparkan cara membuat Blog Gratis dengan blogspot.

Sebenarnya, cara membuat blog gratis di blogspot tidaklah sulit. Dengan beberapa langkah saja blog anda sudah bisa jadi dan langsung online. Tapi bukan cuma itu yang akan dijelaskan oleh caranyamamas.blogspot.co.id

Sebelum lebih jauh bicara soal cara bikin blog, sebaiknya kita sedikit flash back mengenai defenisi atau pengertiannya. Menurut Wikipedia, blog adalah kependekan dari kata web log. Blog termasuk bagian dari aplikasi yang berbentuk web dan isinya lebih condong pada tulisan atau artikel. Adapun yang perbedaan Blog dengan website adalah blog tidak statis atau sering berubah, yaitu dengan adanya update artikel setiap saat yang juga mempengaruhi pada tampilan antar mukanya.

Umumnya, tujuan pembuatan sebuah blog gratisan seperti caranyamamas.blogspot.co.id ini adalah untuk berbagi ilmu. Namun ada juga yang bertujuan untuk bisnis dan mencari uang lewat internet. Terlepas dari motif dasar atau tujuan utama Anda ingin membuat Blog, langkah-langkah dibawah ini perlu Anda pelajari sebelum membuat Blog Gratis berbasis blogspot.

1. Pastikan Anda sudah memiliki email.

Jika Anda belum punya email, saya sarankan Anda untuk segera belajar cara membuat email terlebih dahulu. Hal ini penting karena email adalah sarat wajib untuk membangun Blog.

2. Masuk ke www.blogger.com

Setelah Anda memiliki email, silahkan masuk ke alamat www.blogger.com dan klik tulisan "buat blog" setelah itu ikuti petunjuk yang ada, seperti mengisi formulir dari nama dst.... sampai blog mentah Anda jadi.

3. Memulai Ngeblog.

Setelah semua langkah-langkah diikuti, sekarang Anda sudah resmi memiliki blog sendiri. Untuk itu Anda harus mulai mengisi blog (ngeblog) atau menulis artikel di dalamnya. Anda bisa mengisi dengan berebagai macam tema yang Anda inginkan.

Minggu, 19 Desember 2010

Tahun Baru dan Haflah Akhirussanah


Rasanya masih teringat dibenak kita, tentang janji-janji & harapan-harapan pada penghujung 2009 yang lalu. Tak terasa kini 2010 akan segera berakhir. Cepat sekali bukan? Seperti biasa kita akan mengenang kembali apa yang telah terjadi dalam 1 tahun ini. Begitupun secara otomatis kita berpikir dengan rencana kita tahun depan, tentang cita-cita dan harapan-harapan yang ingin kita capai pada tahun 2011 mendatang. 

Terlepas dari pro kontra perayaan “Tahun Baru”, bagi penulis jika pergantian tahun dimaknai dengan proses tersebut (Penggabungan antara “Rafleksi” “Evaluasi” & “Proyeksi”) bukan ritual khas westren yang berbau hedonis dengan segala konsekwensinya, maka tak ubahnya prosesi Tahun Baru itu sama halnya dengan “Haflah Akhirussanah”.

Secara etimologi Haflah Akhirussanah merupakan gabungan dari tiga kata. Pertama, haflah, yang berarti pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta, upacara (A. W. Munawwir, 1997: 280). Kedua, akhir, yang berarti akhir (A. W. Munawwir, 1997: 12). Ketiga, sanah, yang berarti tahun (A. W. Munawwir, 1997: 670). Jadi Haflah Akhirussanah adalah perayaan atau pesta – dengan mengacu pada arti perayaan atau pesta – akhir tahun.

Sebagaimana makna harfiyah diatas, Haflah Akhirussanah lebih condong pada arti perayaan atau pesta, namun perayaan atau pesta di sini tidak seperti perayaan / pesta secara umum (seperti pesta yang sekarang kita kenal).

Dengan kata lain, Haflah Akhirussanah mengandung makna (hikmah) yang lebih bersifat moral dan sosial. Hikmah itu, bisa kita ambil jika kita benar-benar merenungkan kesalahan-kesalahan di tahun lalu dan merencanakan hal-hal baik di tahun mendatang. Dengan demikian akan muncul beberapa dampak positif seperti :

Pertama, sikap wara’. Wara’ di sini bukan cuma sekedar keluar dari perkara subhat tetapi lebih ditekankan - seperti kata Yusup ibn Abid - pengoreksian diri dalam setiap keadaan (Risalah al-Qusyairiyah: 109-111). Sehingga dalam Haflah Akhirussanah koreksi diri sangat diperlukan, artinya apa yang dikerjakan saat ini setimpal atau seimbangkah dengan apa yang dikerjakan dalam satu tahun, baik bersifat transendental maupun sosial.

Dalam moment Haflah Akhirussanah, benar-benar dituntut untuk selalu mempertimbangkan, memikirkan dan merenungkan terhadap tingkah laku, baik yang telah dikerjakan (Pra Haflah Akhirussanah). Bukan sekedar hiburan dan pentas seni saja, dan tradisi ini sudah sangat subur hidup dipesantren. Tradisi yang sudah tumbuh subur bahkan sejak sebelum bangsa Indonesia terbentuk.

Namun menjadi “Dusta” kemudian, ketika pada tahun baru kita mengucapkan janji, menebarkan mimpi-mimpi/ harapan dan cita-cita dengan tingkatan realisasi yang “Nol”. Bermimpi, bercita-cita itu penting (baca ini) sebagai penyemangat serta arahan hidup kita. Namun konsentrasi untuk mewujudkan cita-cita dalam berbagai tindakan juga tidak kalah penting dibanding berkonsentrasi dalam berencana dan bermimpi. Terlalu sering kita berkonsentrasi untuk ingin ini dan itu, tapi hanya terhenti disitu tidak dilanjutkan dengan berkonsentrasi dalam mewujudkan ini itu.

Sehingga sering terjadi (misal) mimpi-mimpi yang kita angankan ditahun 2008 dengan “PD-nya” kemudian kita ulang lagi pada tahun 2009, lantas kemudian karena tidak ada usaha sungguh-sungguh untuk mengejar mimpi kita ulangi lagi harapan-harapan itu pada tahun baru 2010, kemudian apakah menjelang tahun 2011 ini akan diulangi lagi…? 

Bukan berati hal itu tidak sah, ketika impian itu belum tercapai bagi sayah sah-sah saja anda mengulanginya lagi. Tapi sadarkah anda betapa tertinggalnya anda dari citra diri yang anda idelakan sendiri, banyangkan saja citra yang seharusnya sudah terbangun pada tahun 2008, kemudian belum terwujud sampai menjelang tahun 2011 karena citra itu hanya berada ditataran konsep saja “Tanpa ada usaha untuk merealisasikannya”. Bayangkan seandainya ditahun 2008 citra itu berhasil andawujudkan, saat ini pasti anda sudah mengharapkan citra lain yang jauh lebih tinggi bukan..??

Berencana dan bercita-cita boleh saja, asalkan kita tidak lupa pada tataran realisasinya, bukan sekedar ditataran wacana ataupun bermimpi. Terkadang kita juga begitu menginginkannya cita-cita kita terwujud, hingga lupa berproses. Lupa bahwa beberapa hal tertentu, bahkan banyak hal yang ternyata butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. 

Kita terobsesi untuk menjadikan impian segera nyata, ingin instant, akhirnya menjadi seseorang yang tidak ‘menapak’, tidak realistis, tidak matang. Berproses adalah hal yang alami dalam kehidupan dan dapat membuat diri kita matang. Proses harus dijalani dengan penuh alias kesadaran, tentang mengapa, apa, bagaimana, dimana, kemana, kapan dan siapa yang sedang berproses disini. Karena diakuiatau tidak kita ini terlalu sering tidak sadar, bahkan terhadap apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita lakukan.

Dalam perjalanan berprosespun kita harus senantiasa mengevaluasi dengan menempatkan diri dilingkar luar proses tersebut, supaya kita bisa melihat proses tersebut dalam sebuah perspektif dari luar ke dalam. Kalau kita tenggelam dalam lingkar dalam proses itu saja, kita bisa saja jadi kehilangan perspektif dan kehilangan objektifitas kenapa dan untuk apa kita berproses. 

Sama halnya seperti kita aktif diorganisais, pada mulanya kita berniat menjadikan organisasi itu menjadi alat untuk menempa diri, untuk belajar dll. Namun seiring dengan perjalanan waktu sering kita terlena dalam organisasi tersebut bahkan sampai menjadikan organisasi sebagai tujuan dengan mengesampingkan tujuan awal kita dan tujuan luhur “Asli” dari organisasi tersebut. 

Sering kita terbuai dengan indahnya ritual-ritual dalam organisai, jika tidak pernah mengevaluasi perjalanan dan tujuan kita tidak akan sadar bahwa terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Berhenti dan mengevaluasi proses dalam berkehidupan, sama pentingnya dengan mensyukuri tiap langkah proses yang sudah di lewati dan menikmati setiap prosesnya.

Terlalu asik berproses sampai lupa pada tujuan asalnyapun bisa membuat kita kehilangan arah. Jika kita sadar akan hal tersebut, tentu itu menjadi tidak terlalu bermasalah. Terkadang membiarkan diri ‘kehilangan arah’ itu baik, jika memang ‘kehilangan arah’ tersebut dilewati dengan penuh kesadaran. 

Namun jika terlampau asik berproses dan sama sekali tidak menjalaninya dalam level kesadaran hingga lupa tentang kenapa dan apa objektifitas kita dalam berproses serta kemana arah proses kita ini, bisa-bisa proses yang kita alami dalam mencapai cita-citapun tidak efektif, bahkan bisa saja proses yang kita jalani menimbulkan kerusakan yang merugikan diri kita.

Wallahua’lam………..

Jumat, 17 Desember 2010

Imagination - Kekuatan Dari Mimpi


Semakin moderen peradaban umat manusia, semakin banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia & akan semakin banyak juga orang cerdas yang ada didunia.

Namun itu semua tidak dapat dijadikan sebagai indikator banyaknya orang besar yang akan naik kepanggung dunia. Fakta ini sangat bertentangan dengan apa yang diperdiksikan oleh para pendahulu kita.

Pada zaman dahulu, para leluhur kita boleh saja mengimani secara total bahwa jika anak mereka pandai atau cerdas berpendidikan “Pasti” kelak ia akan menjadi orang besar.

Mungkin saja saat itu mereka mengatakan hal tersebut dengan menyebutkan berbagai contoh sejarah. Tapi, sadarkah anda bahwa anda dilahirkan untuk zaman yang berbeda / benar-benar lain dengan zaman para leluhur kita. Zaman yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh para orang tua kita.

Nyatanya, saat ini banyak orang pandai… Kepandaian dan pendidikan yang tinggi sudah tidak lagi dimonopoli oleh kaum ningrat, “Walaupun tidak bisa disangkal untuk konteks Indonesia masih terlalu banyak anak bangsa yang belum bisa menikmati pendidikan karena faktor ekonomi dll”.

Tapi setidaknya jurang besar antara kaum elit pendidikan dengan kaum dhu’afa yang tidak berpendidikan formal sudah sedikit terkurangi. Hal ini berati sudah banyak juga kalangan menengah kebawah yang melek huruf bahkan berpendidikan formal.

Akan tetapi kenapa angan-angan para orang tua yang menyatakan orang yang besar dan bisa mewarnai dunia adalah orang yang berpendidikan, cerdas & pandai ini belum terbukti. Bahkan masih banyak pengangguran berpendidikan, begitu banyak sarjana-sarjana dari berbagai disiplin keilmuan namun tidak seimbang dengan lompatan-lompatan besar mereka untuk dunia.

Jawabannya adalah karena sebanrnya, ada perbedaan mendasar antara orang-orang cerdas & orang-orang yang dengan ide cemerlangnya ia mampu merubah dunia. Orang-orang seperti Einstein, Napoleon, Mozart, atau Sukarno. Adalah orang-orang mempunyai impian-impian besar, bukan hanya sekedar kecerdasan intelejensia & pendidikan tinggi saja.

Mereka belajar dari orang-orang hebat, yang terhebat dalam sejarah, dan menyerap seluruh pengetahuan-pengetahuan besar mereka. Pengetahuan yang besar itu membuat mereka senang bermimpi. Senang bermimpi besar. Berani bermimpi besar.

Hal-hal yang tidak terbayangkan oleh manusia-manusia lainnya. Dan impian-impian besar mereka yang ajaib datang dari sebuah kekuatan besar, sesuatu yang hanya dimiliki manusia-manusia terunggul di dunia (or mad men..). Sesuatu yang dinamakan,” IMAJINASI”.

Imajinasi secara umum, adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi. Percaya atau tidak, berikut sebagai sample saya sampaikan beberapa rahasia & petuah dari “sebagian” orang-orang besar dalam sejarah;

EINSTEIN, siapa yang tidak mengenalnya? Secara jelas ia pernah mengatakan; “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution”. (1879-1955)

Imajinasi lebih penting dari Pengetahuan. Karena pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia, mendorong perubahan, dan melahirkan kemajuan manusia. (Sekarang anda sudah tahu kenapa Einstein jadi genius).

NAPOLEON, Salahsatu jenderal terbesar sepanjang sejarah, penguasa Perancis di umur 30 tahun juga pernah menyatakan; "Imagination rules the world"

SUKARNO, Persiden RI pertama pada pidatonya, 29 Juli 1956 secara panjang lebar bahkan menyatakan :

"(Bangsa) Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi fantasi besar: mempunjai keberanian, mempunjai kesediaan menghadapi risiko, mempunjai dinamika.

George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah !!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. "Pennj-wise " tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara!".

Mungkin anda masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin imajinasi bisa mewarnai dunia..? Atau bagaimana mungkin imajinasi mampu membawa kita pada kesuksesan..?? bukankah imajinasi itu sesuatu yang tidak real..?

…..Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya…..

Nidji (OST Laskar Pelangi)

Sekarang, pernahkah anda berfikir apa jadinya jika orang-orang besar yang kita kenal dalam sejarah dahulu tidak pernah memiliki imajinasi yang besar..? Bagaimana nasibnya bangsa indonesia ini jika dahulu sukarno dkk tidak pernah berhasrat merebut kemerdekaan..?? Bagaimana nasib kita jika dahulu Edision tidak berimajinasi tentang kehidupan malam yang terang..?? Mereka semua manusia sama seperti kita, mereka semua punya pilihan untuk bermimpi atau tidak, untuk menjadi orang besar dengan karya besar atau menjadi orang yang biasa-biasa saja dalam hidupnya…??

Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan. Manusia yang hidup tanpa imajinasi adalah manusia yang mati sebelum bertemu malaikat maut, manusia yang hanya menambah beban dunia saja…!

Imajinasi itu adalah pikiran, yang melahirkan energi, yang menggerakkan tangan, jari, kaki, mata, dan anggota tubuh Anda lainnya. Bukankah sebagian yang telah kita peroleh saat ini pernah kita pikirkan sebelumnya? Tandanya energi itu mulai bekerja ialah ketika Anda akan menyusun langkah dan rencana untuk mencapai fantasi Anda, kemudian bergeraklah seluruh tubuh ini mengerjakan rencana-rencana itu. Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup Anda.

Jangan pernah takut bermimpi, karena hakekatnya tidak ada yang mustahil didunia ini. Sadari itu, bermimpilah dan kejarlah mimpi-mimpimu jangan pernah takut karena jika ada keinginan pasti ada jalan. Anda manusia, sama Suekarno, Napoleon, Einstein, Edision, dll. Jika sejarah mencatat mereka berhak menyandang “Nama Besar” untuk Dunia, kenapa anda tidak? Anda juga manusia sama dengan orang-orang sukses mereka juga manusia bukan dewa.....!!

Sabtu, 07 Maret 2009

Ibnu Thufail

IbnuThufail atau dalam tulisan latin lebih dikenal dengan nama Abubacer, adalah salah seorang Ilmuan sekaligus Filosof Islam yang pernah hidup pada tahun 506-581 H /1110-1185 M. Beliau memiliki nama asli Muhammad Ibnu Abdul Malik Ibnu Thufail.

Sejarah Singkat 

Ibnu Thufail dilahirkan di Wadi Asy sebuah tempat di kota Guadik yang wakti itu berada dibawah propinsi Granada, tepatnyta pada tahun 506 H atau 1110M . Beliau termasuk keturunan dari salah satu keluarga Arab termuka yakni suku Qaklis.

Dalam hal keilmuan, kegiatan ilmiahnya meliputi bidang ilmu Kedokteran, Kesusastraan, Matematika, dan Filsafat. Karir IbnuThufail dimulai dari Granada sebagai seorang Dokter praktik. Namun selain menekuni pekerjaannya sebagai seorang Dokter praktik, beliau juga seringkali menulis untuk penguasa pada waktu itu.

Hingga kemudian, (karena ketenaran beliau) IbnuThufail diangkat menjadi sekertaris gubernur kota Granada. Karir tersebut terus berlanjut sampai-sampai pada tahun 1154M (549H) IbnuThufail menjadi sekertaris pribadi dari Gubernur Ceuta dan Tangier “Penguasa Muwahhid Sepanyol pertrama yang merebut Maroko” .

Setelah namanya terus naik daun, beliau lalu menjadi Dokter pribadi Abu Ya’Cub Yusuf al-Mansur dan menjadi seorang qadi pada pengadilan tunggi pada Khalifah ke-Dua dari Daulat Muwahiddin 558H/1163M - 580H/1184M.

Dari kholifah inilah beliau mendapatkan kedudukan yang tinggi, dari kedudukannya itu beliau lantas mengumpulkan para Cendikiawan yang hidup pada masanya untuk ikut bergabung dan mengkaji bersamanya didalam Istana Kekhalifahan.

Diantara para Cendikiawan tersebut tercatat pula nama seorang Filosof terkenal seperti halnya Ibnu Rusyd dan IbnuBajjah yang diundang sekaligus diberi amanat untuk mengulas buku-buku karya Aristotales. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya IbnuThufail dalam menggali pengetahuan.

IbnuThufail melepas jabatannya sebagai dokter pemerintahan pada tahun 578H/1182M karena beliau merasa usianya sudah lanjut. Sebelum beliau benar-benar mengundurkan diri dari jabatannya beliau sempat memberikan anjuran agar kelak yang menggantikan kedudukannya adalah IbnuRusyd.

Meskipun telah mengundurkan diri dari kursi jabatannya, beliau tetap mendapat penghargaan dari Abu Ya’kub. Bahkan ketika Ibnu Thufail telah meninggal dunia, beliau masih mendapat penghargaan dari Abu Yusuf al-Mansyur.

Ibnu Thufail meninggal di Maroko pada tahun 581H, pada saat itu al-Mansyur sendiri menyempatkan diri untuk hadir dalam upacara pemakaman IbnuThufail.

Karya

Semasa hidupnya IbnuThufail dikenal sebagai seorang Dokter, Filosuf, ahli Matematika, dan juga seorang Penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid Sepanyol. Beberapa buku biografi menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Thufail menyangkut beberapa tema, seperti Filsafat Fisika, Metafisika, Kejiwaan, selain itu juga ada beberapa Risalah-risalah (Surat-surat) yang dikirimkannya kepada Ibnu Rusyd dll.

Akan tetapi hal yang sangat disayangkan adalah dari keseluruhan karya-karya IbnuThalhah tersebut tidak secara keseluruhan dapat dengan mudah kita nikmati pada saat ini. Kemungkinan terbesar hal ini tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa akhir kejayaan umat Islam dimasa lampau yang menyebabkan hilang dan berpindahnya karya-karya monumental dari para Cendikiawan Islam tempo dulu, tidak terkecuali dengan karya-karya IbnuThalhah ini (mungkin).

Sampai saaat ini karyanya yang terkenal dan masih dapat diakses secara mudah hanyalah risalah Hay bin Yaqadhan yang menurut beberapa orang merupakan intisari dari pemikiran-pemikiran Filsafat IbnuThufail.

Karya ini sekarang telah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, suatu naskah di perpustakaan Escurial yang berjudul “Asror al-Hukmat al-Masyriqiyyah” (risalah-risalah filsafat timur) tidak lain adalah suatu bagian dari risalah Hay bin Yazadhan.

Karya Hayy IbnuYaqzan

Ada yang mengatakan bahwa IbnuTufail lebih cenderung pada perenungan atau bahkan pemikiran dari pada menulis. Mungkin ini juga salah satu penyebab mengapa kita sering kesulitan mencari karya-karya IbnuThufail.

Meski begitu kita beruntung masih bisa menikmati risalah Hay bin Yazadhan. Karya IbnuThufail ini merupakan suatu pemikiran yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya judul ini telah diberikan oleh Ibnu Sina pada salah satu karya eksotiknya, demikian juga dengan nama-nama tokohnya seperti Asbalah dan Salamah .

Dalam muqadimahnya, IbnuThufail menyebutkan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah untuk menyaksikan kebenaran (al-Haq) menurut cara-cara yang ditempuh oleh para ahli al-Zauq dan Musyahadah (para ahli tasawuf yang telah mencapai tingkat kewalian).

Pada dasarnya roman ini mengisahkan tentang dua jenis kehidupan manusia di-dua pulau. Pulau pertama berisi kehidupan individu manusia, sedangkan pulau ke-dua berisi tentang kehidupan masyarakat manusia.

Kedua jenis kehidupan yang berbeda tersebut dicoba dipertemukan oleh IbnuThufail, namun hal itu tidak berhasil, hanya sebatas tingkatan “saling mengerti”. Masing-masing kehidupan itu terkait dengan proses, alat tingkat pengetehuan (ma’rifah), dan rumusan kebahagiaan yang dapat dicapai.

Secara ingkas isi dari risalah IbnuTufail dapat digambarkan seperti ini:

Kisah itu dimulai dengan kelahiran mendadak Hay di sebuah pulau kosong. Kemudian dia dibuang di tempat terpencil oleh saudara perempuan seorang raja. Dengan maksud agar perkawinannya dengan Yaqzan tetap terahasiakan. Di mana tempat pembuangan tersebut tidak diketahui oleh kehidupan masyarakat. Di tempat itu dia diberi makan oleh seekor Rusa kecil.

Di samping itu ia juga diajari oleh pemikiran-pemikiran alamiahnya atau akal sehat, walaupun terkadang menurut orang lain mungkin terkesan tidak masuk akal, namun justru karena hal itu dia malahan bisa menyelidiki rahasia segala benda. Rupanya binatang tersebut mempunyai kesadaran akan ketelanjangannya dan ketiadaan perlindungan atas dirinya. Anak tersebut di atas oleh IbnuTufail dinamakan Hay Ibnu Yaqzan.

Penghidupan Hay kemudian berkembang mengikuti masyarakat yang amat primitif itu mulai dari langkahnya yang pertama. Dilihatnya semua hewan tertutup auratnya dengan kulit dan bulu. Lalu ditirunya. Diambilnya bulu-bulu burung dan daun-daun kayu guna menutup aurat.

Pada suatu hari terlihat oleh Hay terjadi kebakaran di pulau itu. Api itu diambilnya, lalu dinyalakannya kayu-kayu terus menerus. Dengan kayu itu dicobanya membakar burung, lalu terasalah baginya makanannya yang lebih lezat setelah dimasak itu.

Dia mulai berburu hewan guna dimasak dan dimakan. Untuk menemaninya berburu itu lalu dipeliharanya seekor anjing. Makanan yang berlebih disampan untuk hari berikutnya. Dengan inilah timbullah peradabannya yang pertama.

Hingga suatu ketika, kijang yang mengasuhnya sejak kecil sakit dan makin hari makin lemah, akhirnya tidak bergerak lagi, yaitu mati. Di samping susah, Hay menjadi heran, sebab belum pernah melihat seekor hewan mati dengan sendirinya tanpa pembuhuhan. Akhirnya Hay mulai memikirkan sungguh-sungguh mengapa ada peristiwa kematian itu.

Kemudian badan kijang itu dioperasinya, diperiksanya kalau-kalau ada anggotanya yang rusak. Ternyata semua masih lengkap, dan akhirnya Hay mengerti bahwa sebab kematian itu berada di luar badannya. Dia bertanya, siapakah yang berkuasa di luar badannya itu? Dengan ini sampailah pemikiran Hay kepada pengakuan ketuhanan. Dia percaya kepada Tuhan, dan dia juga tidak lagi mementingkan soal makan secara berlebihan sebab ia sadar pada akhirnya dia juga mati.

Selain itu tersebut pula sebuah pulau lain yang lebih besar dan berpenduduk banyak. Di sana manusia hidup hanya mementingkan keduniaan dan berfoya-foya saja. Karena penghidupan maksiat itu, seorang penduduknya yang alim mengasingkan diri dari pulau maksiat itu, lalu melarikan diri ke pulau tempat Hay tinggal.

Di sana dia berjumpa dengan Hay. Setelah dia mengajari Hay tutur bahasa manusia, maka mereka berduapun mengadakan tukar pikiran. Disinilah IbnuTufail menggambarkan bagaimana alam pikiran Hay yang berkembang sendiri itu dapat saja sesuai pendapatnya dengan alam pikiran sialim yang terpelajar dari masyarakat ramai itu.

Suatu waktu keduanya meninggalkan pulau terasing itu dengan mengembara ke sebuah kota yang ramai. Di sana keduanya mengajari orang banyak agar mereka menjauhi dunia. Di tengah masyarakat ramai ini Hay melihat bagaimana manusia hidup berfoya-foya dan mengejar kekayaan semata-mata.

Mula-mula Hay mengkritik sistem zakat yang dianggapnya menyebabkan orang berlomba-lomba mengejar kekayaan. Akan tetapi, kritik Hay ini dibantah oleh temannya bahwa zakat itu malahan yang menuntun orang banyak itu. Kekayaan mereka diatur oleh agama untuk kebahagiaan orang-orang miskin.

Hay kemudian mengerti maksud agama yang menuntun langsung secara praktis fitrah dan keselamatan orang banyak itu. Akhirnya dalam buku ini dikatan bagaimana Hay dan temannya pulang kembali ke pulau tempat mereka mengasingkan diri hingga meninggal.

Ajaran Filsafat IbnuTufail

1. Tentang Dunia

Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya? Dalam filsafat muslim, IbnuTufail, sejalan dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana Kant.

Tidak seperti para pendahulunya, tidak menganut salah satu doktrin saingannya, dia pun tidak berusaha mendamaikan mereka. Di lain pihak, dia mengecamdengan pedas para pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentangan tak terbatas.

Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat mendahului mereka dalam hal waktu, dan yang tidak dapat sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Begitu pula konsep creatio ec nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama.

Sebagaimana al-Ghazali, dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidakmaujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahuui kemaujudan dunia dikesampingkan.

Lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang Pencipta menciptakan dunia saat itu dan bukan sebelumnya? Apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? Tentu saja tidak, sebab tiada sesuatupun sebelum Dia untuk membuat sesuatu terjadi atas-nya. Apakah hal itu mesti dianggap bersumber dari suatu perubahan yang terjadi atas sifat-Nya? Tapi adakah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut?

Karena itu IbnuTufail tidak menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini .

2. Tentang Tuhan

Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tak bisa maujud dengan sendirinya. Juga, sang Pencipa bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta.

Di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda. Dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak dapat mengenali-Nya lewat indera kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.

Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, membutuhkan penggerak atau penyebab efisien dari gerak itu. Jika penyebab efisien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas.

Oleh sebab itu penyebab efisien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. Ia tidak boleh dihubungkan dengan materi ataupun dipisahkan darinya, ada di dalam materi itu atau tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efisien itu, sesungguhnya lepas dari itu semua.

Tuhan dan dunia yang keduanya kekal, bagaimana bisa yang pertama dianggap sebagai penyebab adanya yang kedua? Dengan mengikuti pandangan IbnuSina, IbnuTufail membuat perbedaan antara kekekalan dalam esensi dan kekekalan dalam waktu dan percaya Tuhan ada sebelum adanya dunia dalam hal esensi tapi tidak dalam hal waktu.

Ambillah satu contoh, jika kau pegang sebuah benda dengan tanganmu dan kau gerakkan tanganmu, maka benda itu , tak pelak lagi, akan bergerak dikarenakan gerak tangan itu, jadi gerak itu bergantung kepada gerak tangan. Gerak tangan mendahului gerak benda dalam esensinya, dan gerak benda diambil dari gerak tangan tersebut, meskipun dalam soal waktu keduanya tak saling mendahului.

Mengenai pandangan bahwa dunia dan Tuhan sama-sama kekal, IbnuTufail mempertahankan pendapat mistisnya bahwa dunia itu bukanlah suatu yang lain dari Tuhan. Dan mengenai esensi Tuhan yang ditafsirkan sebagai cahaya yang sifat esensialnya merupakan penerangan dan pengejawatahan, sebagaimana dipercaya oleh al-Ghazali, IbnuTufail memandang dunia ini sebagai pengejawatahan dari esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahaya-Nya sendiri yang tidak berawal atau berakhir.

Dunia tidak akan hancur sebagaimana yang ada pada kepercayaan akan Hari penentuan. Kehancurannya berupa keberalihannya menjadi bentuk lain dan bukannya merupakan suatu kehancuran sepenuhnya. Dunia mesti terus berlangsung dalam satu atau bentuk lain, sebab kehancurannya tidak sesuai dengan kebenaran mistis yang tinggi yaitu bahwa sifat esensi Tuhan merupakan penerangan dan pengejawatahan kekal.

3. Tentang Kosmologi Cahaya

Ibnu Tufail menerima prinsip bahwa dari satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manifestasi kemajemukan kemaujudan dari yang satu dijelaskankannya dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan. Proses itu pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin.

Cahaya matahari yang jatuh pada cermin dan yang dari sana menuju ke yang lain dan seterusnya, menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri, bukan pula sesuatu yang lain dari matahari atau cermin itu.

Kemajemukan cahaya yang dipantulkan itu hilang menyatu dengan matahari kalau kita pandang sumber cahaya itu, tapi timbul lagi kalau kita pandang cermin, yang di situ cahaya tersebut dipantulkan. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama beserta perwujudannya di dalam kosmos.

4. Epistemologi Pengetahuan

Tahap pertama, jiwa bukanlah suatu tabula rasa, atau papan tulis kosong. Imaji Tuhan telah tersirat di dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih, tanpa prasangka.

Keterlepaan dari prasangka dan kecenderungan sosial, sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hay di pulau kosong. Setelah hal ini tercapai, pengalaman, inteleksi dan ekstase memainkan dengan bebas peranan mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran yang melekat pada jiwa.

Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan semua indera dan akal, yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan analar (Kant), disatu pihak, dan kesesuaian antara nalar dan intuisi (Bergson dan Iqbal), dipihak lain membentuk esensi epistimologi IbnuTufail.

Pengalaman akan menjadi suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-organ indera ini berfungsi berkat jiwa hewani yang ada di dalam hati, dari sana berbagai data indera yang kacau mencapai otak menyebarkannya ke seluruh tubuh lewat jalur syaraf. Kemudian dikirimkan ke otak lewat jalur yang sama, di situ diproses menjadi satu kesatuan perspektif.

Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang oleh akal induktif, dengan alat-alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu, yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa (seperti Aristoteles) sebagai penyebab fungsi tertentu berbagai benda.

Tapi hipotesis semacam itu tidaklah dapat dipertahankan atas dasar induktif, sebab bentuk jiwa yang dimaksud itu tidak dapat diamati secara langsung. Tak pelak lagi tindakan-tin dakan tampa muncul dari suatu tubuh tertentu; tapi kenyataannya, mereka tidak ditimbulkan bukan oleh tubuh itu atau ruh tubuh itu, melainkan oleh sebab tertentu yang ada di luarnya dan sebab itu ialah Tuhan.

Mengikuti pendapat al-Ghazali dan mendahului pendapat Hume. IbnuTufail tidak melihat adanya kekuatan pada sebab yang bisa mendatangkan pengaruh sebagaimana biasanya. Empirisme Hume berakhir dalam skeptisisme.

Tapi ketasawufan IbnuTufail membuatnya melihat bahwa ikatan sebab akibat merupakan suatu tindak perpaduan yang dianggap berasal dari Tuhan, tapi oleh Kant hal itu dianggap berasal dari bentuk a priori pemahaman. IbnuTufail sekaligus berada di depan Bacon, Hume dan Kant.

Dia telah mengemukakan terlebih dahulu metode induktif ilmu modern; melihat ketidakmampuan nalar teoritis untuk menjawab teka-teki mengenai kekekalan dan penciptaan sementara dunia ini, juga ketidak mampuan akal induktif untuk menetapkan suatu hubungan yang tegas antara sebab dan akibat dan akhirnya menjernihkan awan skeptisisme dengan membuat pernyataan bersama al-Ghazali bahwa rangkaian sebab akibat itu merupakan tindakan terpadu Tuhan.

Setelah mendidik akal dan indera serta memperhatikan keterbatasan keduanya, IbnuTufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa, yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, tapi dapat dilihat secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada di dalamnya.

Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang pernah dilihat mata atau didengar telinga, atau dirasa hati orang manapun. Taraf ekstase tak terkatakan atau terlukiskan, sebab lingkup kata-kata terbatas pada apa yang dapat dilihat, didengar atau dirasa. Esensi Tuhan yang merupakan cahaya suci hanya bisa dilihat lewat cahaya di dalam esensi itu sendiri, yang masuk ke dalam esensi itu lewat pendidikan yang tepat atas indera, akal serta jiwa. Karena itu pengetahuan esensi merupakan esensi itu sendiri. Esensi dan visinya adalah sama.

5. Etika/Akhlak

Manusia merupakan suatu perpaduan tubuh, jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dan dengan demikian menggambarkan binatang, benda angkasa dan Tuhan. Karena itu pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek sifatnya, dengan cara meniru tindakan-tindakan hewan, benda-benda angkasa dan Tuhan.

Mengenai peniruannya pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya akan kebutuhan-kebutuhan pokok serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas, dengan satu tujuan yaitu mempertahankan jiwa hewani. Peniruan yang kedua menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup, perenungan atas esensi Tuhan dan perputaran esensi orang dalam ekstase.

IbnuTufail tampaknya percaya bahwa benda-benda angkasa memiliki jiwa hewani dan tenggelam dalam perenungan yang tak habis-habisnya tentang Tuhan. Terakhir, dia harus melengkapi dirinya dengan sifat-sifat Tuhan, baik yang positif maupun yang negatif, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijakaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah, dan sebagainya.

Melaksanakan kewajiban demi diri sendiri, demi yang lainnya dan demi Tuhan, secara ringkas merupakan salah satu disiplin jiwa yang esensial. Kewajiban yang terakhir adalah suatu akhir diri, dua yang disebut sebelumnya membawa kepada perwujudannya dalam visi akan rahmat Tuhan, dan visi sekaligus menjadi identik dengan esensi Tuhan.

6. Filsafat dan Agama

Filsafat mengarah kepadasuatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam konsep-konsep dan imajinasi yang sesungguhnya, tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Bahasa merupakan hasil dari kebutuhan-kebutuhan material lingkungan sosial dan karena itu hanya dapat menyentuh dunia fenomena semata.

Dunia angkasa, yang abstrak dan non bendawi, tidak dapat dijangkau. Bila dilukiskan dengan lambang-lambang bendawi, maka ia akan kehilangan esensinya dan bisa orang menganggapnya tidak sebagaimana yang sebenarnya.

Kalau begitu mengapa al-Quran melukiskan dunia atas itu dalam ibarat-ibarat, sehingga pandangan yang lebih jelas terkesampingkan dan orang bisa jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan fatal karena menganggap pemenuhan kebutuhan jasmaniah sebagai esensi Tuhan, padahal Dia lepas dari itu? Dan mengapa Kitab Suci tidak hanya sekedar memberikan ajaran-ajaran dan tatacara pemujaan dan memberi manusia izin untuk mengumpulkan kekayaan serta memberinya kebebasan mencari makan, yang dengan cara itu mereka mengejar tujuan yang sia-sia dan berpaling dari kebenaran? Tidakkah kebutuhan yang sana terpenting dari jiwa itu ialah membebaskan diri dari hasrat-hasrat serta ikatan-ikatan duniawi sebelum dia memulai perjalannya menuju surga? Apakah manusia mau mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi untuk mengikuti kebenaran, jika mereka mencapai pengetahuan murni sehingga mampu memahami segala sesuatu dengan benar?

Kegagalan menyedihkan Hayy dalam upaya memberi penerangan kepada massa dengan jalan memberikan konsep-konsep murni itu, membuka jalan bagi menjawan pertanyaan-pertanyaan di atas,Nabi berlaku bijak dengan memberi mereka bentuk-bentuk yang dapat ditangkap oleh indera dan bukannya penerangan melulu, sebab mereka tidak memiliki jalan keselamatan yang lain.

Bila mencapai pengetahuan murni, mereka akan terguncang dan jatuh dan berakhir dengan buruk. Bagaimanapun, meski IbnuTufail menyuarakan kebijaksaan Neara Muwahhid tentang penahanan pengajaran filsafat kepada orang kebanyakan, namun dengan jelas dia mengakui adanya sekelompok orang berbakat yang patut mendapatkan petunjuk-petunjuk filosofis dan kepada mereka paling baik ditanamkan pengetahuan serta kebijaksanaan dengan jalan mengemukakan kiasan-kiasan.

Agama diperuntukkan bagi semua orang; tetapi filsafat hanya bagi orang-orang berbakat yang sedikit jumlahnya. Kelebihan mereka harus dipisahkan secara hati-hati. Tak pelak lagi, filsafat harus diphami secara bersamaan dengan agama, keduanya membawa kepada kebenaran yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka berbeda bukan hanya dalam metode dan lingkup, tapi juga dalam taraf rahmat yang mereka anugerahkan kepada para pengikut setia mereka.

Agama melukiskan dunia dengan lambang-lambang eksoteris. Dia penuh dengan perbandingan, persamaan, gagasan-gagasan antropomorfis, sehingga akan lebih mudah dipahami oleh orang-orang, mengisi jiwa dengna hasrat dan menarik mereka kepada kebajikan dan moralitas. Filsafat, dilain pihak merupakan bagian dari kebenaran eksoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep dan imaji-imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang diisi esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu.

Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabipun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan, mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan Nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.

Filsafat merupakan masalah khusus individu, ia mensyaratkan perangai dan bakat tertentu untuk menangkap penerangannya. Agama, sebaliknya merupakan suaut disiplin sosial. Pandangannya bersifat melembaga, bukan individu. Tujuannya kurang lebih yaitu kebaikan massa secara umum tanpa menghiraukan perbedaan-perbedaan individu dalam kemampuan dan kecerahan batiniah.

Filsafat menghadapkan kita kepada realitas. Ia menuntut perenungan terus menerus atas kebenaran, visi jelas cahaya utama, sumber segala kemaujudan, dengan melepaskan semua ikatan duniawi. Agama tidak demikian tegar dalam ketentuan-ketentuannya.

Ia mengutuk ketertapaan dalam arti apapun, sebab manusia pada umumnya tidak mampu mencapai hal itu. Oleh karena itu agama menetapkan syarat mutlak yang paling mudah dilaksanakan dan memberikan kepada manusia izin untuk menjalani kehidupan duniawi, asal tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.

Dengan demikian para filosuf mampu mencapai kebahagiaan yang tinggi. Sedangkan orang kebanyakan harus merasa puas dengan kebahagiaan kedua dan tidak dapat meningkat lagi, dikarenakan keterbatasan diri mereka. Kemudian teori ini di bawah pengaruh IbnuRusyd, mempersenjatai sarjana Eropa terhadap Gereja dengan doktrin kebenaran lipat dua, John dari Brescia dan Siger dari Brabant menjadi dua wakil utama. Cerita ini tampaknya belum berakhir di sini; sebab sikap individualistik yang menguntungkan dari filsafat modern, suatu sikap yang membedakannya dari pandangan zaman suatu dasar yang khas dari teori itu.



DAFTAR PUSTAKA

Mustofa, Filsafat Islam; untuk fakultas tarbiyah, dakwah, dan Ushuluddin. Komponen MKDK. CV Pustaka Setia, 1997.
Purwantana. Ahmadi&Rosali, Seluk Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosydakarya, 1994.
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam; filosof dan filsafatnya. PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta 2004.
Nasution, Hasyimah. Filsafat Islam. Gema Media Pratama, Jakarta 1999.

Selasa, 03 Maret 2009

Filsafat Islam, Kajian yang Mulai Terlupakan

Filsafat, siapa yang kenal dengan istilah ini? Jika Anda bertanya kepada masyarakat umum dapat saya pastikan, citra filsafat itu tidak selamanya indah / baik. Kalau boleh membuat perbandingan, mungkin jumlahnya antara 10:90.

Maksudnya, kira-kira hanya ada 10% masyarakat yang mengidentikkan kata filsafat dengan sesuatu yang indah, baik dan berguna. Selebihnya (yang sebenarnya mayoritas orang tidak faham filsafat) akan mengidentikkan istilah filsafat dengan sesuatu yang menyeramkan, kurang terawat (mungkin diidentikkan dengan gaya para filosof / mahasiswa filsafat yang identik bebas) dan memiliki cara berfikir berputar-putar / rumit.

Porsi untuk orang yang memandang filsafat dengan cara itu kira-kira 40%. Setelah itu masih ada 50% yang dibagi menjad golongan "Tahu Filsafat Setengah-Setengah" dan umumnya orang model ini yang sering mengkatagorikan kajian Filsafat dalam wilayah "Subhat" / membahayakan akidah (bisa membuat tidak percaya pada tuhan). Kira-kira presentasenya sekitar 30%.

Sisanya, 20% adalah orang-orang yang tidak suka sama sekali dengan filsafat. Sebelum melangkah pada pembahasan, untuk menyamakan persepsi tentang Filsafat Islam, penulis merasa ada baiknya jika pada tulisan yang ringkas ini penulis tambahkan sedikit pengantar pembahasan mengenai Filsafat Islam itu senditri. 

Jika dilihat dari pengertian praktisnya, kata Filsafat itu sendiri memiliki penyerupan makna atau pengidentikan makna dengan Alam Fikir atau bahkan Alam Berfikir meskipun jika ditinjau dari makna semantiknya kata Filsafat memiliki makna Suka atau Cinta (Philo) dan Pengetahuan atau Hikmah, Kebijaksanaan (Shopia).

Atas dasr inilah Drs.Poerwartana memaknai ber-Filsafat sebagai suatu proses pemikiran terhadap hakekat sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh. Dengan kata lain Filsafat menurut Drs.Poerwartana merupakan suatu ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu.

Ini senada dengan pendapatnya seorang filosof muslim terkenal “Al-Farbi” yang mengatakan bahwa Filosuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya untuk mencari Hikmah (Hakekat dari segala sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh) yakni mema’rifati Allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan.

Dari sedikit pemaparan diatas paling tidak dapatr kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelupkan kedalam ajaran-ajaran Islam untuk membahas hakekat kebenaran dari segala sesuatu.

Meskipun demikian, dalam pandangan kaum cendikiawan Islam sendiri terkadang tedapat suatu permasalahan tentang Filsafat Islam itu sendiri, apakah itu sebuah Filsafat Islam atau Filsafat Arab? Atau mungkin bahkan dalam perjalanannya mendatang ada istilah lain dari keduanya.

Dalam hal ini Prof.Mu’in menyatakan apabila Filsafat itu disebut dengan Filsafat Arab, berarti mengeluarkan para Filosuf yang berasal dari Iran, Afganistan, India, dll. Karenanyalah Prof.Mu’in lebih memilih dengan Filsafat Islam karena ini berarti lebih umum yakni setiap Filosuf yang beragama Islam baik itu di Iran, Afganistan, India, dll.

Hal senada juga disebutkan oleh seorang Orientalis dan budayawan Iran yang berkebangsaan Prancis “Corbin”, ia lebih tertarik dan membela istilah Filsafat Islam daripada Filsafat Arab. Hal ini sebagaimana yang ia katakana bahwa; “Jika kita mengambil nama Filsafat Arab pengertiannya akan sangat sempit sekali bahkan akan keliu”.

Pendapat itu sebenarnya bersebrangan dengan pandangan Mauric De Wild, Emik Brehier, dan Lutfi as-Sayid yang lebih senang menyebutnya dengan Filsafat Arab. Alasannya karena kajian Filsafat tersebut ditulis dalam bahasa Arab, dan diterjemahkan dalam bahasa Arab yang tentu saja dengan menambahkan unsur-unsur baru yang ada dalam bahasa Arab tersebut.

Selain itu jika Filsafat ini dimaknai dengan Filsafat Islam bagamana sebutan untuk para pemikir atau Filosuf yang hidup dibawah bendera Islam dan mengeluarkan buah-buah Intelektualnya tentang Islam padahal ia sendiri bukan orang Islam? (gmana kalo kejadian gitu???) Up 2 U pilih mana.

Dalam hal ini penulis lebih cocok dengan istilah Filosof Islam mengingat selain sebagai agama, Islam juga merupakan suatu peradaban. Pemikiran Filsafat Islam juga memiliki pengaruh terhadap peradaban Islam sendiri, sehingga setiap Filosof yang muncul dibawah naungan bendera Islam dan memiliki corak pemikiran Islam, baik deri problem-problem yang diangkatnya, motif pembinaannya, maupun tujuannya dapat disebut sebagai Filosuf Islam, meskipun banyak sumbernya serta berbeda-beda orang dan daerahnya.